Kaya atau Miskin??

Sedih banget ngeliat realita jaman sekarang.
Datang belanja ke toko yang tulisannya CUCI GUDANG, SALE, PROMO naik mobil, pakaian dari atas kepala sampai kaki bermerk, hape super mahal, make up cetaaarr. Bukan penampilan orang miskin. Tapi begitu SPG datang pertanyaan utamanya, YANG PALING MURAH MANA?
It’s okay kalau emang pengen hemat, udah prinsip ekonomi buat selalu mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya, aku menyebutnya prinsip ekonomi KAPITALIS.
But it’s all about manner atau sopan santun.

 
Mereka belanja di mall besar, ada tulisannya SALE, gak ada yang ngotot-ngotot nawar. Tapi mereka belanja ke toko kecil, ada tulisannya SALE, ngotot banget nawar, bikin aturan sendiri sampai marah gebrak-gebrak meja dan akhirnya banting pintu saat permintaannya tidak disetujui.
Mereka belanja di mall harga jutaan sampai puluhan juta tanpa nawar. Tapi belanja ke toko kecil ngotot nyari yang harganya seratus ribuan.
 
Aku jadi berpikir. Kalau ke toko aja mereka bisa seenaknya, lalu bagaimana sikap mereka jika ke pasar tradisional? Nawar abis-abisan! Dan memang aku sering ngeliatnya, manusia yang seperti itu.
MIRIS.
 
Lalu, definisi kaya yang sebenarnya itu apa?
Kalau memang kaya itu selalu dikaitkan dengan banyak harta, harusnya mereka menunjukkan dengan sikapnya.
Mereka punya uang lebih banyak dibandingkan yang jualan di pasar itu. Bahkan jam tangan aja seharga uang modal orang yang jualan itu selama 6 bulan. Tapi kenapa sikap mereka tidak menunjukkan kekayaan mereka? Mereka tidak tahu saat setelah abis-abisan nawar, yang jualan itu NANGIS.
 
Mereka nawar abis-abisan sampai marah-marah ke SPG yang jualan. Begitu disetujui oleh SPGnya walaupun dengan berat hati, mereka lalu bersikap memiliki segalanya. Minta barang yang bagus, ada debu sedikit tidak mau padahal dibersihkan pakai lap basah juga bisa. Heeyyyy itu barang SALE, harga sudah murah, tapi minta yang masih oke seperti barang new comer. Mereka pergi dari toko dengan perasaan bangga sudah beli barang dengan supermurah, mereka tidak tahu SPG itu dimarahi abis-abisan sana bosnya karena menjual barang dibawah harga normalnya dan gajinya dipotong. Kalau aja mereka tau, harga tas yang dipakainya itu sama seperti 8 bulan gaji SPG itu.
 
Awalnya saya sedih dengan realita yang terjadi di sekitar saya, mungkin sebagian dari kalian juga pernah merasakan seperti saya. Dan saya jadi bertanya, benarkah hidup ini tidak adil untuk orang-orang ‘bawah’ seperti saya dan orang-orang seperti mereka? Dan jawaban itu saya temukan sendiri di dalam Al Qur’an. “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)
 
Saya jadi ingat salah satu hadits. Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah kekayaan itu dengan banyak harta, tetapi sesungguhnya kekayaan itu ialah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari Muslim).
Bagi seorang muslim, kekayaan ilmu, kekayaan hati, kaya amal, kekayaan budi pekerti, itu jauh lebih berharga daripada kekayaan harta benda.
 
Dan saya sampai dalam satu kesimpulan. Menjadi kaya di dunia bukan banyaknya harta yang saya dapatkan dan manfaatkan untuk kepentingan diri sendiri tapi banyaknya harta yang saya dapatkan dan manfaatkan untuk orang lain. Semakin banyak yang saya berikan untuk kepentingan orang lain, maka semakin kaya saya di dunia. Semakin sedikit yang saya berikan kepada orang lain, walaupun itu hanya sebuah senyuman, maka semakin miskinlah saya.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s