3 Cara Mencari Jodoh by Tere Liye

Bagaimana orang2 mencari pasangan hidupnya? Banyak caranya, tiga diantaranya akan dibahas dalam tulisan ini. Well, kalau saya sendiri berdasarkan pengalaman pribadi lebih memilih dengan hati. Memang benar, gak selalu indah dan mudah tapi setidaknya keputusan yang saya ambil tidak pernah membuat saya menyesal karena semua dipilih dengan hati. Kalaupun yang saya pilih untuk dicintai tidak membalas, tetap akan menjadi kisah yang indah. Oh iya, saya ambil tulisan ini dari facebook Tere Liye. Saya save di blog pribadi saya agar suatu hari bisa saya baca. Hope you enjoy it. 😀

Nah, tulisan ini jelas dirancang untuk keperluan pembaca yang universal/populer, jadi akan dijelaskan dengan cara lebih nge-pop. Ada tiga cara yang paling sering digunakan orang2 saat mencari pasangan hidup, yang sekaligus bagaimana mereka meletakkan posisi dari cara tersebut.

Yang pertama, orang2 yang mencari pasangan dengan “mata”. Ini bagian terbesar yang ada, menguasai mungkin separuh lebih populasi. Naksir karena tampilan wajah dan fisik, suka karena terlihat tampan atau cantik. Maka, bersolek semenarik mungkin, memakai pakaian terbaik, menyewa kendaraan, bergaya, plus polesan sana-sini sah-sah saja.

Karena proses pencarian pasangannya diletakkan pada mata, golongan ini dekat sekali dengan istilah “mata keranjang” (untuk sang penggoda), juga dekat dengan terminologi “mata duitan” (bagi yang tergoda).

Apakah ini buruk? Catatan ini tidak sedang membahas baik atau buruk caranya. Toh, itu boleh2 saja. Kita sibuk bilang jangan menggoda orang dengan pakaian mini nan seksi, nyatanya yang digoda memang suka hal2 tersebut. Mau menyalahkan siapa? Catatan ini hanya menjelaskan saja variasi orang2 mencari pasangan hidup.

Yang kedua, orang2 yang mencari pasangan lewat “otaknya”. Logika atau nalar. Ini bagian terbesar kedua, mungkin menguasai sepertiga populasi yang ada. Seorang dokter, misalnya, akan memilih dokter lainnya, atau yang lebih mapan. Keluarga berada, misalnya lagi, akan memilih pasangan yang setara dengannya. Lulusan sarjana, memilih pasangan lulusan sarjana. Karena proses pencarian diletakkan pada otak, maka golongan ini menggunakan “kecerdasan survival” atau inteletualitas bertahan hidup saat mencari jodoh, kelompok ini boleh jadi dekat dengan istilah “memperbaiki keturunan”.

Apakah ini buruk? Lagi2 catatan ini tidak sedang membahas soal itu. Secara logika, bahkan kita tahu sekali, mencari pasangan dengan kecerdasan adalah jalan terbaik memastikan semua akan baik2 saja besok lusa. Pernikahan itu tidak sekadar karena cinta; kita tidak bisa membelanjakan cinta di supermarket. Pasti ditolak oleh kasirnya.

Yang ketiga atau yang terakhir, orang2 yang mencari pasangan lewat “hatinya”.

Apakah kita bisa mencari jodoh dengan mencoret penilaian “mata” dan “otak”. Tentu saja selalu bisa. Ada pemuda tampan dan gagah, dari keluarga berkecukupan, memutuskan menikah dengan gadis sederhana, tidak cantik, dari kasta rendah.

Kenapa? Karena pemuda ini yakin, calon istrinya besok lusa bisa mendidik anak2nya menjadi anak2 yang keren. Sebaliknya, ada seorang gadis jelita, kembang kampus, memilih seorang pemuda bersahaja, kusam tampilan dan rendah profesinya. Kenapa? Karena dia yakin, calon suaminya ini adalah pekerja keras dan jujur. Itu akan jadi modal untuk merengkuh kesuksesan besok lusa.

Golongan ini, tidak dekat dengan penilaian mata, penilaian logika. Mereka lebih dekat pada keyakinan hati.

Apakah cari ini paling unggul? Lagi2 saya tidak sedang membahas soal itu. Karena banyak juga, pasangan yang menikah karena keyakinan hati, ternyata hidupnya susah, banyak cobaan, dan tidak selalu berakhir bahagia seperti dongeng2 cinta.
Catatan ini simpel untuk menjelaskan variasi mencari jodoh. Kalian pilih yang mana? Maka bersiaplah dengan resikonya. Mencari jodoh dengan “mata”, hati2 tergaet si mata keranjang. Kalian tidak oke lagi, siap2 saja dibuang. Pun mencari jodoh dengan logika dan nalar, hidup kita akan menjadi sejenis kompetisi, survival dan kesetaraan. Tidak terpenuhi lagi alasan2, argumen2nya, maka cukup hingga di sini semua cerita.
Pun saat mencari jodoh dengan “hati”, bersiaplah bahwa bahagia atau tidak bahagia harus direngkuh dengan proses panjang. Masalah demi masalah adalah makanan kehidupan. Hilang keyakinan dan ketangguhannya, maka hati bisa berubah cara pandang.

Terakhir, terlepas dari kita akan memilih pasangan dengan cara apa, orang tua dulu sering menasehati: tidak semua orang memperoleh paket sempurna saat mencari jodohnya; tapi kita selalu berkesempatan untuk memperbaiki diri, belajar dari kesalahan.

Selamat mencari pasangan hidup terbaik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s