Merah dan Biru

Assalamu’alaikum semuanya..

Udah lama ingin posting cerpen karangan sendiri. Sebenarnya ini sih isi hati yang terpendam. Gak masalah kan kalau diekspesikan dalam bentuk tulisan, secara kalau diekspresikan secara nyata aku belum berani. Hehehe.. Semoga yang kebetulan baca bisa suka. Kalau gak suka, yaa harap maklum aja namanya juga iseng-iseng berhadiah. Hehehe.. Yang pasti ini terinspirasi dari kisah nyata pengalaman hidupku sendiri. Kalau ada yang suka bongkar-bongkar postingan lamaku, pasti tahu lah yaaa.. Kalau gak ada yang suka bongkar dan baru baca kali ini, semoga terhibur dan jangan kapok yaa mampir ke sini. Enjoy!!

Merah dan Biru

DINTA

Tetaplah menjadi bintang di langit. Agar cinta kita akan abadi. Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini. Agar menjadi saksi cinta kita berdua. Suara nyanyian itu terdengar jelas di telingaku. Dia dan teman-temannya duduk di depan kelas kita yang menghadap lapangan basket. Aku juga ada di situ, tak jauh dari tempatnya. Berada di samping teman-temanku yang sibuk curhat sana-sini sementara aku menjadi pendengar. Menikmati suara nyanyiannya dalam diamku, bukan mendengar curhatan teman-temanku. Suara lain jadi menghilang dari telingaku. Hanya suaranya yang terdengar.

“Ta.. Ta.. Kamu dengar apa tidak yang aku tanyakan ke kamu? Kok kamu diem saja? Kamu mikirin apa sih?” Laura membuyarkan lamunanku dengan mengibaskan tangannya di depan mukaku. “Eeh.. Aku.. Aku denger kok. Cuma berpikir aja solusinya gimana buat masalahmu. Sebentar ya Ra, aku ke toilet dulu. Nanti aku kasih solusi deh.” kataku sambil berjalan menjauh dari kumpulan teman-temanku yang beristirahat di depan kelas. Suara nyanyian itu tiba-tiba menghilang dari telingaku seiring jalanku yang semakin jauh dari asal suara itu.

Valdo, dia teman sekelasku sejak awal aku masuk sekolah ini. Sekarang kita sudah di semester akhir. Kurang beberapa bulan lagi aku tidak akan melihat dia lagi. Entahlah, aku bingung bagaimana dia jadi terlihat istimewa di mataku akhir semester ini. Semua teman-temanku suka Valdo. Semua orang ingin berada di dekat dia. Dia baik, humoris, supel dan pintar. Aku juga ingin berada di dekatnya. Tapi aku hanya seorang Dinta. Dinta yang introvert, kutu buku, miskin dan tidak sepintar Valdo. Aku cukup tahu diri dengan diriku. Aku hanya melihatnya dari jauh. Ada yang bilang Valdo sedang suka sama teman sekelasnya. Aku tahu itu bukan aku. Dia selalu jauh dariku walaupun kita teman sekelas.

Beberapa jam sebelumnya sebelumnya..

“Ciee.. ciee.. Yang lagi berdua, ngerjain soal bareng apa lagi PDKT niih??” sorak teman sekelas buat dua orang yang sedang duduk bersebelahan di bangku paling depan. Semuanya dapat dengan jelas melihat itu, terutama aku. Karena aku duduk di samping bangku mereka. Valdo dan Lenny. Aku dengan jelas melihat mereka duduk berdekatan, Valdo menjelaskan soal fisika dengan sabar ke Lenny. Saat itu semua menjadi jelas buatku. Aku harus pergi.

“Rika, aku ke perpus dulu yaa.. Mau pinjem buku. Kalau gurunya masuk, langsung SMS aku ya.” pamitku ke teman sebangkuku, Rika. Aku mengambil tasku dan keluar kelas. Menahan air mataku agar tidak terlihat siapapun. Akhirnya, dia mempunyai pilihan dan itu bukan aku, tapi Lenny. Air mata mengalir saat aku tiba di rak buku terpojok, tempatku bersembunyi, tempat yang jarang didatangi. Aku harus tenang. Jangan sampai orang lain tahu perasaanku. Aku memang tidak terlalu pintar dalam pelajaran, bukan berarti aku tidak pintar bersandiwara.  Yaa, aku harus selalu bersandiwara dengan topeng acuhku ini.

Lima tahun kemudian..

“Ra, datang yuuk ke Reuni. Sejak kita lulus SMA, kamu kan tidak pernah datang tiap kelas kita bikin acara.” bunyi SMS Rika yang masuk ke handphoneku. Seperti biasa aku membalasnya dengan kalimat yang mengecewakan Rika, “Maaf Rika, sepertinya aku sibuk. Tidak bisa ikut datang ke acara reuni. Salam buat teman-teman saja ya.” Aku menghela napas panjang. Kembali teringat hari itu saat aku mendengar Valdo akhirnya jadian dengan Lenny. Hari itu hujan turun dengan sangat deras seakan mengerti tentang isi hatiku yang hancur. Walaupun mereka berdua tidak mengakui secara langsung di depan teman-teman sekelas, tapi aku yakin kalau kabar itu benar karena sahabat Valdo sendiri yang menyebarkan berita ‘menyesakkan’ itu. Apa aku bisa kuat bertemu mereka dalam satu ruangan yang sama lagi seperti saat itu?

VALDO

“Dinta, kamu sedang apa?” tanya Rika, salah satu teman sekelasku yang cantik dan kaya itu kepada teman sebangkunya, Dinta. Yang ditanya menjawab tanpa menoleh ke arah Rika. “Ooh ini aku baca bukunya Pramoedya Ananta Toer, judulnya Bumi Manusia. Aku baru aja nemuin di perpustakaan tadi pas istirahat. Aku lihat review bukunya bagus jadi aku pinjam deh.” “Kamu tuh bener-bener suka baca buku sastra ya, Ta? Gak belajar buat ujian fisika besok, malah baca novel jadul. Hehehe.” sahut Rika. “Rika, ini tuh aku lagi refreshing tauk. Aku tadi udah belajar sedikit di perpustakaan. Tenang aja, aku udah berusaha keras kok buat belajar walaupun besok udah pasti hasilnya jelek, setidaknya aku sudah belajar. Hehehe.” jawab Dinta sambil terus membaca buku. “Ya udah, sekarang kan lagi gak ada guru, kamu mau ikut ke kantin gak? Aku mau beli cemilan nih biar gak ngantuk di pelajaran Kimia nanti.” ajak Rika. “Makasih ya Rika, aku di kelas aja deh. Lagi asyik baca buku nih.” jawab Dinta sambil tersenyum. “Oke, deh. Aku ke kantin dulu ya. Kalau ada guru cepetan SMS aku ya, Ta? Jangan lupa lho.” kata Rika sambil mencubit pipi Dinta. “Iya, Rika cantik.” jawab Dinta sambil tersenyum.

Aku tersenyum saat mengamati peristiwa itu dari bangku belakang. Saat itu memang jam kosong karena guru yang mengajar sedang sakit. Akhirnya sebagian teman-teman kelasku memilih hijrah ke kantin daripada suntuk di kelas. Tapi entah mengapa aku lebih memilih tetap di kelas. Apa mungkin karena Dinta juga ada di kelas? Ah, aku sendiri juga bingung dengan Dinta. Sejak semester kemarin aku mulai memperhatikan Dinta diam-diam. Kurasa dia cewek yang punya kepribadian ganda. Kadang dia bisa jadi super ceria, tapi kadang kala dia jadi super dingin dan cuek. Dia tertutup dengan sebagian besar teman di kelas. Hanya beberapa orang saja yang bisa dekat dengannya.

Aku mulai memperhatikan dia karena sebuah puisi yang dia posting di facebooknya yang tanpa sengaja aku baca. Aku jadi penasaran siapa yang dia maksud dalam puisi itu. Entah mengapa hatiku seakan terpanggil oleh puisi itu. Mungkinkah puisi itu untukku? Andai saja aku bukanlah Valdo yang dianggap pangeran, aku juga ingin bisa mendekatinya.  Tapi gengsi ini yang mebuatku selalu berpikir dua kali, untuk apa aku mendekati ‘rakyat jelata’ seperti Dinta?

Tapi semakin lama aku mengamati Dinta, semakin aku sadar selama ini rupanya aku tertipu dengan sosoknya yang pendiam itu, gayanya yang sederhana itu, saat kuperhatikan dari jauh ternyata dia benar-benar cantik. Senyumnya, matanya, rambutnya, semua begitu indah. Dan hatinya, jauh lebih indah dari yang pernah aku bayangkan. Dia begitu tulus menolong teman, pribadinya jujur dan pantang menyerah, di balik kekurangannya dia selalu berusaha keras mengejar yang lain. Saat aku menyadari itu semua aku tahu aku begitu ingin mengenalnya, ingin membawanya masuk ke dalam kehidupanku.

Besok paginya..

“Ciyee, kayaknya ada yang baru jadian nih?” terdengar suara Rika yang baru saja datang dan duduk di tempat duduknya. Sudah ada Dinta yang duluan duduk di situ. Dinta memang suka datang pagi, itu juga yang jadi alasanku buat datang lebih awal di sekolah, agar aku punya waktu berdua dengan Dinta menikmati kesunyian kelas di pagi hari walaupun cuma sebentar.

“Rika, please jangan keras-keras dong bicaranya kayak berita penting aja deh.” sahut Dinta malu-malu. “Ciyeee.. Pantesan akhir-akhir ini suka senyum-senyum sendiri sambil ngelihatin hape. Ternyata lagi Pedekate sama someone. Bisa sampai jadian gimana ceritanya?” goda Rika. Dinta hanya tersenyum, senyum yang begitu bahagia. Aku cemburu karena baru kali ini aku melihat Dinta sebahagia itu. “Dia itu bisa dibilang rivalku saat SMP Rik, sejak MOS dia sekelas sama aku sampai kita lulus SMP. Sekarang dia sekolah di SMA Gita. Aku gak nyangka aja ternyata dia dari dulu udah suka sama aku, tapi dia malu sama teman-temanku yang lain karena kita kan dikenalnya sebagai musuh. Begitu masuk SMA, dia mulai deh pedekate sama aku. Dan kemarin sore, dia ngajakin aku jalan dan nembak aku.” jawab Dinta sambil tersenyum.

“Emangnya cowokmu itu seperti apa sih? Lihat fotonya doong, please.” pinta Rika. “Ini Rik, aku ada fotonya di handphone aku. Namanya Vio. Cakep kan?” “Iya Ta, cakep, keren, putih bersih lagi kulitnya. Masa sih kamu dulu musuhan sama cowok secakep dia?” “Dia selalu bikin aku kesel sih Rik, jadinya kita tiap hari pasti berantem mulu di kelas. Gak taunya ternyata dia ada rasa sama aku. Udah ah ceritanya, kelas udah mulai rame nih. Aku malu kalau sampai temen-temen tau, ntar aku digodain lagi.” kata Dinta sambil mengambil buku tulis dari dalam tasnya.

Aku yang sejak tadi menajamkan telingaku supaya bisa mendengar percakapan itu, lama-lama jadi panas juga. Aku jadi  penasaran seperti apa pacarnya Dinta. Apa dia lebih baik dari aku?

DINTA

“Eh Dinta, denger-denger kamu punya pacar baru ya? Anak mana sih?” tanya Mira tiba-tiba saat istirahat siang. Saat itu aku sudah ingin berjalan ke luar kelas. “Kamu tau darimana aku sudah punya pacar?” tanyaku penasaran. “Ada deh, anak mana sih? Siapa tau aku kenal.” kata Mira sambil mencoba menghalangi jalanku. “Hmm..  Dia anak SMA Gita.” jawabku singkat. “Ooh.. Aku punya teman di situ. Seangkatan sama kita ya? Anak IPA apa IPS?” tanya Mira bertubi-tubi. ” Iya seangkatan sama kita. Anak IPA. Namanya Vio. Lengkapnya Revio Arya Setya. Udah jelas kan? Sekarang aku permisi dulu, aku mau balikin buku ke perpustakaan.” jawabku cepat sambil berusaha menghindari Mira. Dalam hati aku menjadi heran, darimana dia tahu aku sudah punya pacar dan buat apa juga dia nyari tau tentang pacarku, aku kan cuma rakyat jelata?

Besok paginya, Mira langsung mendatangiku yang sudah duduk di bangkuku. Wajahnya terlihat riang. “Dinta, aku sekarag sudah tau pacarmu. Dia ketua kelas IPA 1 kan? Ikut ekskul sepak bola dan ikut band juga kan? Dia kulitnya putih, pakai kacamata dan tiap kali ke sekolah dia pakai motor matic warna merah kan?  Bener gak?” kata Mira mengebu-gebu. Tanpa sadar, satu kelas sudah diam memperhatikan perkataan Mira yang memang seakan menggunakan toa mushola. Dan aku cuma bisa menatap Mira tanpa berkedip. “Darimana kamu tahu itu semua Mira?” tanyaku pelan. “Tuh kan berarti bener! Gak susah kok nyari tau tentang pacarmu Ta, soalnya dia lumayan terkenal di SMA Gita. Gak nyangka ya kamu bisa jadian sama Vio. Kan gosipnya dia lagi dideketin sama ketua cheerleader SMA Gita yang namanya Sasha. Kamu pasti tau itu kan?  Ya udah deh, aku naruh tasku dulu ya.” sahut Mira sambil berjalan ke arah mejanya. Aku termenung. Apa benar Vio seterkenal itu di sekolahnya? Lalu, kenapa dia memilih aku sementara dia dideketin sama ketua cheerleader yang udah pasti lebih cantik daripada aku?

Tanpa sadar aku menoleh ke arah bangku itu dan melihat seseorang yang duduk di bangku itu sedang menatapku dengan tatapan mata yang aku tak mengerti. Valdo. Kenapa dia menatapku? Apa dia dengar semua yang dikatakan sama Mira? Kira-kira apa yang ada di dalam pikirannya?

VALDO

Sial, aku tambah sakit hati. Ternyata dia punya pacar yang sempurna, jauh lebih baik daripada aku. Pantas saja selama ini dia mengacuhkanku. Aku harus menunggu sampai dia bisa membuka hatinya untukku. Saat ini aku hanya bisa menatapnya dari jauh dan berusaha mencari celah di hatinya untuk kusinggahi. Dinta, kenapa aku harus jatuh cinta denganmu, bukan dengan orang lain? Kenapa aku yang seorang pangeran harus jatuh cinta dengan rakyat jelata sepertimu dan sekarang aku patah hati karena rakyat jelata sepertimu sudah memiliki cinta dari pangeran yang lain? Bukannya ironis sekali hidupku ini? Dan bahkan, aku tidak bisa berbicara denganmu walaupun sebentar saja. Kenapa Dinta?

“Valdo, aku bisa minta tolong bantuin aku ngerjain soal fisika yang ini? Aku benar-benar gak ngerti.” suara itu membuyarkan lamunanku. Lenny, salah satu teman sekelasku yang cantik dan juga kaya. Hanya saja Lenny ini tidak seperti Rika yang mau bergaul dengan rakyat jelata seperti Dinta. Lenny benar-benar menjaga kelas sosialnya. “Iya bisa. Mana yang tidak kamu ngerti?” jawabku berusaha ramah. Padahal dalam hatiku masih panas karena mendengar kata-kata Mira tadi pagi. Sesekali aku melirik ke arah Dinta. Mukanya berubah, ada sesuatu yang tidak beres. Dinta kelihatan muram.

DINTA

“Ren, bisa bantuin aku? Tolong jujur,  sebenarnya apa hubungan Vio sama Sasha di sekolah? Aku dapat kabar kalau Vio sedang dekat sama Sasha. Tolong kasih kabar aku secepatnya. Thanks. Dinta.” kukurimkan SMS ke temanku yang juga satu sekolah sama Vio. Begitu mendengar berita dari Mira tadi pagi, aku mendapat firasat yang buruk. Semoga saja firasat ini salah. Dengan cemas aku menunggu balasan dari Renata. Tanpa sadar aku menoleh ke bangku itu. Valdo dan Lenny. Mereka terlihat mesra sekali saat belajar bersama seperti itu. Kenapa hatiku sakit padahal aku sudah jadian sama Vio? Kenapa mataku terasa berat seperti ini? Apa aku ingin menangis? Tuhan, tolong kuatkan aku.

Tiba-tiba hapeku bergetar. Ada SMS masuk dari Renata. Dinta, kamu gak jadian kan sama Vio? Soalnya aku dapat kabar baru saja Vio jadian sama Sasha. Dia nembak Sasha di lapangan basket pas Sasha latihan cheerleader. Oh, Tuhan. Aku benar-benar ingin menangis, aku tidak kuat menahan air mata ini. Vio, kamu jahat! Aku berlari ke luar kelas menahan air mataku. Aku berlari menuju perpustakaan. Di ruang pojok, di tempat yang tak pernah disinggahi orang lain. Aku menangis sepuasnya. Aku menangis karena pengkhianatan Vio dan lebih sakitnya lagi, aku cemburu sama Lenny. Kenapa kisah cintaku seperti ini? Apa karena aku rakyat jelata seperti yang selalu teman-temanku bilang? Aku harus kuat. Aku tidak boleh menangis karena cowok. Sebentar lagi aku udah mau ujian kelulusan. Aku harus fokus.  Apapun yang terjadi, aku tidak mau pacaran sampai lulus SMA. Aku janji.

Dengan yakin kuambil handphoneku. Kucari nama itu, My Vio. Vio, aku sudah tahu semuanya. Thanks udah ngasih aku harapan yang indah tentang hubungan kita. Mulai sekarang hubungan kita sudah berakhir. Aku mau konsen buat kelulusanku. Semoga kita bisa tetap berteman. Thanks a lot. SMS send. Aku menghapus air mataku. Berjalan lagi menuju kelasku dengan muka seperti tanpa ada masalah. Tapi ternyata kesedihan itu masih tampak dari mataku.

VALDO

Dia habis menangis. Apa karena aku dekat sama Lenny? Atau karena dia ada masalah sama pacarnya? Andai aku bisa memberikan pundakku jntuk tempatnya menangis. Andai aku bisa menggenggam tangannya dan menyakinkan dia bahwa semua akan baik-baik saja. Dia begitu kesepian dan terluka, terlihat jelas dari matanya. Aku harus melakukan sesuatu.

Tetaplah menjadi bintang di langit. Agar cinta kita akan abadi. Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini. Agar menjadi saksi cinta kita berdua. Kunyanyikan sebuah lagu untuk dia, lagu yang mewakili perasaanku ke dia. Dinta, hanya Dinta. Semoga dia tahu lagu ini kunyanyikan hanya untuk dia. Semoga saja dia mengerti aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Dinta, andai aku bisa mengatakan ini langsung ke kamu. Aku benar-benar jatuh cinta denganmu. Tapi mungkin kali ini cinta hanya hidup di dalam hatiku sendiri.

DINTA

“Halo, Dinta? Kamu beneran gak mau datang ke acara reuni? Aduuh.. Mentang-mentang sekarang udah jadi novelis terkenal ya.. Kamu gak kangen nih sama aku?” cerocos Rika saat aku menerima telepon dari dia. “Rika, kamu tetep aja deh cerewetin aku. Gak bosen ya? Hahaha..” godaku. “Habisnya kamu jahat Ta. Setiap ada reuni kamu gak pernah datang. Padahal aku udah kangen berat sama kamu. Aku pengen tau Dinta yang sekarang seperti apa. Kamu udah nikah ya?”tanya Rika. “Belum. Doain aja ya semoga jodohku cepat datang melamarku.” jawabku sambil tertawa. “Kamu tuh yaa.. Kelamaan gak gaul sama kita sampai-sampai kamu gak tau ada yang nungguin kamu dari dulu.” Aku terdiam, “Maksudnya apa yaa Rika?” “Udah deh, kamu gak usah banyak tanya. Pokoknya kali ini kamu harus datang. Biar semuanya jelas. Soalnya kalau aku jelasin lewat telepon bisa-bisa tagihan teleponku over limit nih. Kamu mau bayarin? Pastinya gak kan?” jawab Rika sambil tertawa.  “Iya aku usahakan datang.” kataku ragu-ragu. “Eh jangan diusahain. Kamu harus dateng. Janji ya? Aku tunggu lho, Dinta.” “Oke Rika cantik.” kataku menutup pembicaraan. Aku putuskan kali ini aku akan datang. Walaupun hati ini masih terluka mengingat hari itu.

VALDO

“Kamu yakin Dinta bakalan datang kali ini?” tanyaku ragu. “Iya, dia udah janji. Dinta tidak pernah mengikari janjinya sendiri. Jadi pastikan semua benar-benar siap.” jawab Rika. “Iya, aku sudah lama menunggu kali ini.” kataku dengan yakin. Aku membuka-buka buku catatanku. Masih ada di sana. Puisi indah Dinta.

Seminggu kemudian..

Semua datang berkumpul di aula sebuah hotel bintang lima di kota ini. Sudah banyak teman yang kusapa tapi dia masih belum tampak juga. Apa dia benar-benar menepati janjinya kali ini? Seperti apa Dinta sekarang? Pikirku sambil melamun. “Heii.. Cakep-cakep tapi doyan melamun. Tuh banyak cewek cantik, kenapa gak disamperin aja? Masih mau nunggu bidadari dari surga? Mustahil tauk.” suara Lenny mengagetkan aku. “Eh kamu barusan datang?” kataku sambil menatap Lenny. “Iya nih. Kamu nungguin siapa? Dia? Yakin dia bakalan datang kali ini? Aku rasa dia udah ngelupain kamu. Kenapa dulu kamu gak terima aku aja sih? Daripada kamu nungguin dia yang belum pasti.” ujar Lenny. “Terima kasih buat tawarannya ya Lenny. Tapi hatiku masih milik dia. Dari dulu sampai sekarang. Aku menyesal tidak mengatakan sejak dulu.” jawabku. “Oke deh. Semoga berhasil kali ini. Aku ketemu temen-temen yang lain dulu ya. Sampai ketemu lagi.” kata Lenny sambil berjalan ke arah kerumunan. Aku kembali menatap ke arah pintu. Berharap dia akan segera datang.

Lima belas menit berlalu dan dia belum datang. Aku melangkahkan kakiku ke luar ruangan, berjalan ke arah taman. Mungkin udara segar dapat menjernihkan pikiranku. Dari jauh aku melihat sosok wanita sedang duduk di bangku taman. Siapa dia? Dengan penasaran aku mendekatinya.

DINTA

Entahlah, aku gak yakin buat datang. Perasaanku semakin tak karuan begitu melihat penuhnya tempat parkir. Tanpa sengaja aku melihat sebuah taman di depan gedung itu. Baiklah, aku coba menenangkan perasaanku dulu di taman sebelum masuk ke dalam. Kulangkahkan kakiku ke sebuah bangku di tengah taman itu. Taman yang indah penuh bunga berwarna-warni. Menyenangkan sekali berada di sini daripada di dalam ruangan hanya menahan perasaanku saat bertemu dia.

“Permisi, maaf mengganggu anda. Boleh saya duduk di sini? Di dalam agak gerah.” tiba-tiba aku mendengar suara orang lain. Dengan gugup aku menggeser posisi dudukku. “Silakan saja.” kataku sambil menoleh ke arah orang lain itu. Deg. Jantungku seakan terhenti saat itu juga. Valdo. Kenapa dia ada di sini dan menatapku seperti itu? Aku tidak mau lama-lama di sini. Aku harus pergi. “Aku masuk aja ke dalam ya, Do?” kataku panik sambil berdiri. Tiba-tiba tangan itu menggenggam tanganku erat, berusaha menghentikan gerakanku. Jantungku seakan lepas dari tempatnya.

VALDO

“Dinta, please jangan pergi. Aku ingin bicara sebentar sama kamu. Boleh?” pintaku sambil tersenyum. Dinta, kamu memang cantik. Sangat cantik dengan gaun itu sekarang. “Iya deh. Aku duduk lagi. Emangnya mau bicara apa?” jawab Dinta sedikit takut. “Aku harap malam ini diantara kita yang ada hanya kejujuran. Sepahit apapun kejujuran itu masih jauh lebih baik daripada kebohongan yang manis. Aku harap kamu jujur Dinta. Boleh aku tahu puisi ini untuk siapa?” kataku sambil mengambil secarik kertas dari saku jasku. Dinta mengambil kertas itu dan membacanya dalam hati. Dia menghela napas panjang.

“Valdo, mungkin sekarang saatnya aku jujur kepadamu. Aku tulis puisi ini buat kamu. Aku tahu aku tidak pernah pantas mendampingimu. Aku minder karena kamu terlalu sempurna untukku dan tidak bisa kudekati. Aku cuma bisa menahan rasa ini dan mengungkapkannya lewat tulisan dan puisi. Aku cuma bisa mendoakanmu dari jauh Valdo.  Aku cuma ingin kamu bahagia. Aku pernah mencintaimu Valdo, dulu.” jawab Dinta pelan.

“Benarkah puisi ini untukku, Dinta? Apa kamu masih mencintaiku sekarang?” tanyaku sambil menggenggam tangannya erat. “Valdo, kenapa kamu bertanya seperti itu? Apalah arti cintaku kalau kamu tidak pernah cinta sama aku? Bukankah kamu sudah bahagia bersama Lenny?” tanya Dinta sambil menatapku. Tuhan, mata indah itu akhirnya bertemu dengan mataku. Bisakah waktu berhenti saat ini? “Ada yang perlu aku jelaskan ke kamu, Dinta. Aku dan Lenny tidak pernah ada hubungan apapun. Lenny memang pernah nembak aku tapi aku tolak karena aku suka sama orang lain. Karena ada satu orang yang melihat kami bicara berdua, yang lain mengira kami jadian saat itu. Sejak itu kamu mulai membenciku, kamu tidak pernah mau melihat ke arahku lagi.” jawabku pelan.

“Aku ingin menjelaskan semua sama kamu dan mengutarakan perasaanku ke kamu, Dinta. Tapi tiba-tiba kamu update status di facebook kalau kamu tidak mau pacaran sebelum kamu lulus SMA. Jadi aku menahan diriku untuk mengatakan ini. Kamu mengira aku dekat dengan Lenny karena kami resmi pacaran, padahal aku dan dia hanya belajar bersama. Aku menunggu kamu. Aku menyanyikan lagu Kasih Tak Sampai itu untuk kamu Dinta. Karena aku merasa aku tidak akan bisa menggapaimu. Aku takut kamu menolakku karena pacarmu jauh lebih sempurna dibanding aku.”

“Aku sudah putus sama dia. Karena dia itu aku jadi tidak mau pacaran sampai aku lulus SMA. Jadi, orang yang kamu sukai waktu itu aku? Kamu tidak becanda kan Valdo? Kamu tidak sedang mempermainkanku kan?” jawabnya takut-takut. “Aku menunggumu Dinta. Di pesta perpisahan kelulusan kita, aku ingin menghampirimu tapi kamu sudah keburu pulang. Dan sejak itu kamu menghilang. Kamu tidak pernah ikut acara kelas kita. Aku ratusan kali ingin sekali telepon kamu, tapi aku menahan diriku untuk mengatakan semuanya langsung seperti saat ini. Ini semua jujur Dinta. Aku sayang kamu dari dulu sampai sekarang. Bagaimana denganmu? Apakah kamu masih menungguku? Apakah kamu masih mencintaiku?” tatapku penuh harap.

“Sampai detik ini aku masih menunggumu dan mencintaimu Valdo.” jawab Dinta sambil tersenyum. “Kalau begitu, apa aku terlalu cepat untuk meminta kamu menjadi istriku, Dinta?” kataku sambil memberikan sebuah cincin ke arah Dinta. “Please, jangan bilang tidak. Aku sudah terlalu lama tersiksa dengan perasaan ini Dinta.” mohonku. “Iya aku mau Valdo. Aku sayang kamu. Aku cinta kamu dari dulu sampai sekarang. Aku mau mendampingi hidupmu sampai akhir waktu nanti.” jawab Dinta sambil mengambil cincin itu dan memakai di jari manisnya. “Jadi, aku boleh kan peluk kamu sekarang?” pintaku. “Boleh, tapi sebentar aja ya? Kan kita belum menikah.” jawab Dinta sambil tertawa. Aku langsung memeluknya erat. Dadaku sesak karena bahagia. Rasanya seperti menyelesaikan satu puzzle yang hilang bertahun-tahun. “Dinta, aku benar-benar sayang kamu.” bisikku saat memeluknya. “Aku juga Valdo.” jawab Dinta sambil tersenyum bahagia. Akhirnya aku bisa melihat senyum bahagia itu setelah sekian lama.

DINTA

Aku tidak pernah menyangka kalau Valdo juga menyimpan rasa untukku. Puisi yang kutulis dengan penuh rasa cinta ternyata dapat menyentuh hatinya tanpa aku sadari. Dan setelah kita dewasa, kita menyadari bahwa cinta bukan soal perbedaan status sosial, karakter atau apapun. Cinta hanyalah perasaan bahagia saat melihat orang yang dicintai bahagia dan bersedih saat orang yang dicintai bersedih. Menunggu cinta bukanlah hal yang sia-sia karena walaupun orang itu tetap tidak menyadari perasaan cinta ini, tetap kita dapat belajar mengikhlaskan.

Dia adalah merah
senyum mempesona merekah
bagai kelopak mawar di beranda rumah
ingin sekali ku sentuh
mengecup indahnya dalam keraguan
tapi aku terlalu takut
tertusuk duri tajam di dirinya

Biru itu aku
melihatnya dalam diam tersipu
melamun melagu
terbuai tenggelam dalam abu-abu
terbawa arus cinta itu
menggapai untaian waktu
yang bisa pertemukan rasa itu

Aku hanyalah biru
bukanlah warna yang dia cari
Aku sadari hanya biru
bukan cinta yang dia tunggu
Tapi aku adalah biru
dengan ketulusan hati yang dia mau

Aku datang dengan perlahan
mencari setitik ruang tuk bertahan
dalam penantian
yang pantas tuk diperjuangkan

Lihatlah aku merah
dalam kotak krayon yang terbuka
takkan bisa menyentuh indahnya
karena dia merah
dia yang terlalu jauh
dan aku biru
berharap rasa ini menjadi warna baru
ungu..
(Merah dan Biru-Dinta)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s