Dalam Diam Ini. .

Dear my sweetblog..

Akhirnya aku bisa melewati hari itu. Tapi tentu saja menyisakan banyak pertanyaan lagi bagiku. Andaikan saja aku tidak terlahir sebagai perempuan yang hanya bisa menunggu. Andai saja dia tidak berada di dalam lingkaran yang tidak dapat kutembus bahkan sampai sekarang ini. Andai saja dia memang memiliki perasaan yang sama denganku. Andai saja kita bisa lebih saling mengenal sejak dulu. Mungkin jalan ceritanya tidak seperti sekarang ini.

Kemarin akhirnya aku melihatnya, setelah berbulan-bulan lamanya aku tidak lagi memikirkannya. Cukup beberapa jam melihatnya lagi itu sudah cukup bagiku. Bisa menjabat tangannya dalam beberapa detik itu sudah cukup. Diam-diam menatap punggungnya itu sudah cukup. Menatap matanya selama beberapa detik juga bagiku sudah cukup. Bisa bernapas dalam satu oksigen yang sama denganmu beberapa jam saja bagiku sudah cukup. Ya Allah, begitu indahnya perasaan ini. Mencintai dalam diam. Membiarkannya dalam bahagia walaupun tanpa aku di hidupnya.

Awalnya aku kira dia sama sekali tidak memperdulikanku. Tapi tiba-tiba aku tersadar dia sedang menatapku diam-diam. Mata yang sepertinya juga ingin berbicara denganku. Mata yang juga berharap tidak ada jarak di antara kita. Mata yang menyiratkan rasa rindu. Mata yang memanggil hati kecilku untuk menoleh ke arahnya. Dan saat kedua pasang mata itu saling menatap, barulah aku sadari. There’s something in my heart. Dadaku berdebar kencang. Entah apa yang dirasakannya. Debaran yang mengunci mulutku untuk memanggil namanya dengan rasa rindu.

Tapi apa yang bisa aku lakukan? Dia sudah bersama dengan yang jauh lebih baik daripada aku. Seandainya saja kisah kita seperti kuch kuch hota hai, mungkin saja kisah cinta itu dapat terwujud. Tapi aku tidak pernah menjadi sahabatnya. Dia juga tidak pernah menjadi sahabatku. Dia begitu sempurna, sementara aku cuma rakyat jelata. Bisakah kisah cinta ini berakhir bahagia?

Tapi perasaan cinta itu walaupun tidak diungkapkan tetaplah namanya cinta. Dan seperti yang aku katakan sebelumnya, bagiku terlalu indah perasaan ini. Aku tahu aku tidaklah pantas mendampinginya. Aku minder. Kamu terlalu sempurna buatku. Tapi aku berharap dan selalu berharap, ada keajaiban yang bisa menyatukan kita. Entah itu terjadi di kehidupan kita di dimensi yang lain.

Yang perlu kamu tahu, aku akan selalu memujamu dalam diam. Mencintaimu dalam sunyi. Dan mendoakanmu dalam hati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s