Dan Aku Rindu Kepadamu..

Selamat tengah malam blogku tersayang.. Edisi gak bisa tidur karena kegerahan. Eeh ternyata setelah gak bisa tidur malah turun hujan. Ya sudah aku putusin buat nyapa-nyapa blogku tersayang ini. Heheehee.. Akhir-akhir ini sering sekali muncul sosok yang udah lama tak kutemui di dunia nyata datang ke dalam mimpiku. Jujur aja aku kaget saat terbangun. Udah lupa tentang isi mimpinya tapii aku masih ingat siapa yang hadir di mimpi itu.

Anggap saja namanya Nara. Dia dulu teman SMAku sejak aku kelas satu. Dia pintar, agak sedikit  kaku (kepadaku), ramah, dan juga sopan. Dia yang dulu sering menolongku saat pertama kali aku belajar mengenal blog. Aku sadar sih aku emang gaptek. Wajar lhaa.. Keluargaku tidak akrab dengan peralatan canggih seperti laptop atau handphone canggih saat itu. Tapi aku tidak mau menyerah begitu saja. Boleh lha aku tidak punya laptop atau handphone canggih, tapi paling tidak aku bisa mengoperasikan program-program di komputer. Syukur alhamdulillah dapat teman sekelas yang sangat baik dan mau membantuku belajar komputer.

Dari dulu aku memang pengen banget punya blog. Aku pengen punya satu ruang khusus pribadi untukku mengungkapkan siapa aku dan bagaimana pikiranku. Banyak orang mengira aku tipe orang ekstrovert, mereka salah besar. Aku orang yang sebenarnya introvert (tertutup). Hanya saja aku fleksibel dan open minded. Saat orang lain curhat atau meminta solusi kepadaku, aku bisa dengan tepat memberikan pengertian kepada mereka. Tapi aku sendiri jarang menceritakan masalah atau uneg-unegku kepada orang lain. Aku suka memendamnya sendiri karena aku tahu tidak semua orang bisa mengerti aku.

Balik lagi ke sosok Nara. Aku dulu sangat kagum sama dia. Diam-diam aku suka sama dia. Di kelas, aku diam-diam memperhatikannya. Tapi aku cukup tahu diri untuk mengerti kalau aku sama sekali gak pantas di dekatnya. Aku melihatnya selalu serius saat menerima pelajaran, sementara aku tidak. Dia begitu ingin sekali masuk ke kampus itu, kampus dimana semua orang yang ingin mengerti teknologi berkumpul. Waktu itu aku merasa dia seperti robot. Dingin, kaku, dan hidupnya begitu flat, datar. Misterius. Membuatku makin tertarik. Ada pertanyaan yang mengusik hatiku. “Bisakah dia jatuh cinta? Bagaimana sikapnya saat jatuh cinta? Dan wanita seperti apa yang bisa membuatnya jatuh cinta?”

Diam-diam aku mengamati dia. Aku sadar satu hal. Dia bukan tidak bisa jatuh cinta. Tapi dia juga sepertiku. Lebih memilih memendam cinta yang sebenarnya. Bedanya, dia konsisten untuk menjadi single. Sementara aku, memilih berjalan dengan yang lain, orang yang bisa memberiku kepastian. Karena aku benci ketidakpastian. Jadi, walaupun di sampingku sudah ada sosok lain, aku masih memikirkannya. Masih penasaran. Masih ingin tahu. Sesekali saja. Saat rindu itu menyeruak hingga masuk ke mimpiku. Hanya saat itulah aku kembali berpikir, “Bisakah dia jatuh cinta? Bagaimana sikapnya saat jatuh cinta? Dan wanita seperti apa yang bisa membuatnya jatuh cinta?”

Andai saja aku punya keberanian itu. Andai saja cinta itu semudah membaca novel teenlit. Andai saja aku bukan seorang wanita. Aku benar-benar penasaran dengannya. Aku ingin tahu seperti apa dia. Sebagai orang yang mengagumi dia diam-diam, aku tidak bisa datang di hadapannya dan mengakui itu semua. Aku hanya bisa memendamnya dalam hati dan mendoakan dia. Doa-doa terbaik untuknya karena dia pernah berarti untukku walaupun sedikitpun aku tidak pernah memiliki arti di hidupnya. Aku tahu itulah hal terbaik yang aku bisa lakukan untuknya.

Haii Nara.. Apa kabar? Aku merindukanmu.. Semoga suatu hari nanti, entah takdir apa yang membuatmu membaca ini. Aku harap kamu tahu tulisan ini untukmu. Dan setelah kamu tahu, aku harap kamu masih bersikap biasa saja. Jangan menjauhiku. Itu makin membuatku serba salah. Aku janji, suatu hari saat aku berhasil menulis novel ciptaanku sendiri, aku akan menuliskan namamu di lembar ucapan terimakasihku. Iya, kamulah salah satu sumber inspirasiku. Doakan semoga cita-citaku tercapai. Aamiin.. Nara, aku harap kamu bahagia dalam hidupmu karena kalau kamu tidak bahagia, aku akan sedih memikirkanmu. Tapi tenang saja, akan selalu ada sosok-sosok lain seperti aku yang selalu mendoakanmu karena kamu baik. Semoga kamu selalu menjadi Nara yang kukenal. Haai Nara, detik ini aku merindukanmu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s