Pertanyaan yang Belum Terjawab

Assalamu’alaikum dear my blog..

Pagi ini begitu menyakitkan. Entah aku tidak tahu harus bersyukur atau tidak aku masih bisa bangun lagi pagi ini. Nyawaku masih ada, tapi sepertinya jiwaku sudah mati. Mati dari merasakan sakit, kecewa dan luka. Yaa.. Tapi lucunya aku masih saja bisa merasakan iri dan cemburu. Iri dengan orang-orang yang pagi ini terbangun dengan tersenyum manis membayangkan hari-harinya akan indah. Iri dengan orang-orang yang punya sejuta rencana yang mau dilakukan hari ini dengan orang-orang yang mereka kenal.

Sementara aku? Aku hidup sendiri. Benar-benar sendiri walaupun di sekitarku banyak sekali orang. Tapi aku merasa tidak mengenal mereka. Satu-satunya yang kukenal pagi ini, saat aku membuka mata ini hanya hapeku. Dan aku tersadar ada sebuah pesan dari orang yang kukenal dan mungkin dia juga mengenalku. Pacarku, Mas Wisnu. Saat itu juga, orang yang kukira mengenalku bertahun-tahun menjadi asing buatku. Ayah..

Tiba-tiba marah saat mengira aku masih tertidur. Aku sudah bangun yah karena teriakanmu. Aku bangun, aku sadar. Hanya saja aku kacau. Ayah marah dan menyalahkanku karena kuliahku berhenti. Menyalahkan aku yang tidak sanggup membayar uang kuliah. Hatiku teriris, perih, pedih. Andai saja engkau tahu aku sudah mengusahakan segalanya untuk melanjutkan kuliahku. Aku sudah mencari orang yang mau meminjamkan uang ke aku, diam-diam tanya ke bank dekat kantor untuk tahu cara meminjam uang, bahkan hampir saja aku nekat menjual hapeku kalau saja aku tidak ingat kalau uang hasil jual hape  itu tidak cukup untuk membayar kekurangan uang kuliahku.

Akhirnya aku pasrah, usahaku terkendala satu hal yang tidak aku punya, barang yang bisa jadi jaminan. Aku punya apa? Motor itu semua punya ayah, televisi? Semuanya punya ayah. Sempat aku berpikir apa aku jual diri saja seperti kebanyakan perempuan di luar sana. Tapi aku terdiam saat memandang cermin di kamar. Aku terdiam menatap aku yang sekarang sudah berkerudung. Aku teringat niatku saat pertama kali memakai kerudung. Aku ingin menjaga diriku dari hal-hal yang buruk.

Dan inilah akhirnya, aku memutuskan untuk menyerahkan segalanya kepada Allah. Aku yakin jika memang aku ditakdirkan untuk menjadi seorang sarjana pasti jalanku dimudahkan. Mungkin bukan sekarang, mungkin nanti. Tapi ayah tidak pernah tahu itu. Ayah selalu mengira aku tidak niat kuliah, tidak niat kerja, dan memilih pacaran. Padahal kalau saja ayah tahu bagaimana aku menangis saat itu. Saat aku harus merelakan semua impian dan cita-citaku selama ini. Melepaskan semua harapan yang tinggi selama bertahun-tahun. Jika ayah marah, seharusnya aku yang jauh lebih marah. Tapi aku tidak bisa. Aku memilih diam. Membiarkan semua orang menyalahkan aku. Memang semua itu tanggungjawabku.

Iya.. Sekarang aku benar-benar berdiri di atas kebingungan. Kepalaku rasanya ingin pecah. Seandainya saja aku tidak bangun lagi pagi ini. Tapi aku bisa apa? Smua pasti sudah menjadi skenario buatku, buat semua orang yang sudah mengenalku dan mungkin yang akan mengenalku. Apa artinya hidupku sekarang tanpa impian dan harapan? Aku terus berteriak dalam hati. Sampai akhirnya aku berpikir dan memahami. Mungkin jalanku bukan ini, aku harus menemukan impian dan harapan yang baru. Tapi apa? Pertanyaan itu yang hingga detik ini belum terjawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s