Homeschooling, Why Not?

Assalamualaikum my blog.. Aku lagi banyak yang pengen dicurhatkan niih.. Hehehee.. 🙂

Akhir-akhir ini banyak yang sedang aku pikirkan. Yaahh sebenarnya aku berusaha memahami sikap orang-orang di sekitarku sekarang. Banyak banget yang sebenarnya aku bingungkan. Salah satunya itu sifat manusia yang suka menentang orang yang punya ide/ pemikiran lain yang berbeda. Oke, daripada mbulet aku ceritain kronologisnya.

Jadi sebenarnya udah dari lama aku diskusi sama pacarku tentang homeschooling. Aku ingin menyatukan visi dan misi kita saat berkeluarga nanti dengan berdiskusi dari sekarang. Aku tunjukin kenapa aku ngeyel banget pengen menghomeschoolingkan anak. Awalnya dia sempat nolak, nolak banget lhaa.. Tapi aku sabar aja, aku yakin suatu saat pemahaman baik itu akan datang dengan sendirinya ke pacarku. Sampai akhirnya dia nonton berita tentang perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia ini. Dia jadi teringat kata-kataku tentang homeschooling dan dia akhirnya mendukung penuh buat menghomeschoolingkan anak kami jika nanti kami berkeluarga.

Dia akhirnya update status di facebook, Besok kalau punya anak mau saya homeschoolingkan aja. Kasihan kalau anak saya dijejali kurikulum yg amburadul. Dan tanggepan teman-temannya bikin ngelus dada karena sadis banget. Aku tuliskan aja deh buat kenang-kenangan.

– sepurschooling aja
– Amburadul? Emang homescholing ga ada negatif nya ?
– tak bookmark statusmu awas sampe kowe nduwe anak ra kedaden akakakakak
– Melu skrinsut ah… Pokok’e lek mene nganti nduwe anak dilebokne sekolah negeri mesti traktiran nyewa nusantara muter jalur kantong…
– bapake kok gak homeschooling pisan ae nek wes ngerti kurikulum pendidikan amburadul
– Walaupun homeschooling juga nanti wajib ikut ujian penyetaraan lho untuk dapat ijazah resmi… Mending dilarikan ke LN aja, nanti kalo pengen balik tinggal ngurus surat penyetaraan pendidikan, gak perlu ikut ujian…
– Satu yg tidak ada di Home Schooling, TEMAN SENASIB .. senasib tidak mengerjakan PR, senasib dihukum bareng, senasib sama2 mikir, senasib saling curhat …, itu penting lho, apalgi dinamika anak remaja yg selalu ingin bersosialisasi
-Xixixi..ya silahkan saja, secara teoritis ya bisa aja, hsilnya nnti klo dah punya anak bersekolah …well saya pun bagian yg tidak menyetujui kurikulum yg baru tp bukan berarti juga harus mengeksklusifkan diri, mungkin tidak.perlu pintar, atau juga tidak perlu mnjdi bodoh, krna orang pintar blum tentu berhasil, dan orang bodoh juga belum tentu gagal,hanya saja pertemanan masa sekolah lebih berhrga dri apapun. Bayangkan saja ktika nnti reuni ..setelah berpisah sekian thun semngat bercerita tentang bolos sekolah, cinta pertama dengn siapa, ga suka dengan guru siapa dan lain2. Kenapa bgtu ?? Krna memang itulah bagian dri tahap perkembangan scara psikologi. Hanya saja ini bukanlah hal yg primer, bisa diabaikan, tp suatu saat nnti akan ada cerita yg hilang …that’s all. Semua trserah yg melaksanakan dan yg punya anak.

saya pengalaman pny anak bekas homeschoolin tiba2 SMA nya di umum ,, uda keder bgt itu org AnSOS banget ,, sosialiasi lebi penting daripada pendidikan ,, yang diliat bukan hasil tapi proses kita memperoleh ilmu , bukan hanya ilmu dari kurikulum tetapi SOFTSKILL ,, mungkin kalo emang bener bener mahasiswa pasti tau apa aja itu SOFTSKILL dan SOFTSKILL yang gw tau dari hasil baca dan pengalaman di dapet hanya di bangku pendidikan umum yang ga mengeksklusifkan diri ,, intinya Proses nya itu , bodo amat lah tentang kurikulum yg emg uda kurang baik ,, tapi KISAH KASIH CERITA DI SEKOLAH itu sangat berkesan dan bakal jadi pengalaman hidup tak terlupakan
–  mau homeschooling, mau sekolah umum itu terserah ortunya dah, tapi dipertimbangkan juga sama keadaan keluarga, lingkungan, dan kemampuan anak. . .
FYI aja : Anak punya tahap-tahap psikologis yang wajib dilalui dalam masa perkembangannya dan di dalam sekolah umum ada guru yang memang mendampingi anak dan mengawasi tahapan perkembangan anak.
Kalo SD ada guru wali kelas yang hampir setiap saat mengajar di kelasnya dalam berbagai mapel, jadi anak-anak tersebut bisa secara (cukup) konstan diawasi perkembangan psikologisnya, sedangkan di SMP/SMA ada guru BK yang mengawasi dan membimbing (selain wali kelas)
kalau mau tau tahapan perkembangan anak dari early childhood sampai dengan adulthood, cari aja di perpus psikologi buku Lifespan Development yang ditulis dari John W. Santrock, bisa jadi referensi tentang perkembangan kondisi psikologis manusia dari masa bayi sampai masa tua.
soal carut-marut kurikulum,menurut saya hal ini diakibatkan oleh kondisi pendidikan yang jadi obyek politik. Sebenarnya kurikulum saat ini cuma bongkar-pasang dan refreshment dari kurikulum-kurikulum sebelumnya, hanya saja waktu pergantian kurikulumnya yang memang labil, karena kemajuan pendidikan karena kurikulum gak bisa langsung dipetik dalam 1 tahun masa jabatan si menteri akan tetapi dalam waktu yang cukup panjang dan itu pun harus dievaluasi terus menerus. . .
– blajar kelon sek kon
Dan masih banyak lagi komen-komen sadis yang lain.

Dikira aku sama mas Wisnu gak mikir baik buruknya homeschooling?? Kita udah nyiapin diri dari sekarang itu sebuah kemajuan. Jadi lucu ae kalau mereka ngejudge kita ngasal tanpa pertimbangan. Padahal sebelum aku akhirnya berpikir buat memilih HS, aku udah banyak banget baca buku dan referensi. Bahkan aku udah mulai menyusun rencana pendidikan dari sekarang. Kok ya mereka sepicik itu menilai aku dan Mas Wisnu. Ya emang yang mereka katakan semua itu bener, tapi kami juga udah mulai mencari solusi dari sekarang. Kalu soal HS itu mahal, belum ditambah biaya yang lain, aku rasa pendidikan yang baik belum tentu mahal. Aku udah survei kok beberapa tempat HS yang kira-kira terjangkau biayanya. Jangan dikira aku ini kayak kebanyak orang yaa.. Riset itu segalanya dan aku sudah melakukan riset sebelum akhirnya aku membuat keputusan.

Sebenarnya aku cuma takut aja saat nanti punya anak, waktu bersama anak jadi berkurang karena anak sibuk dengan dunia luarnya. Belum lagi kalau sudah remaja, pasti mulai tidak fokus. Ada saja yang merusak pemikirannya. Aku seperti ini karena aku mau anakku nanti tidak seperti aku. Jauuh lebih baik dari kondisiku sekarang. Apalagi ngelihat pergaulan jaman sekarang yang bikin ngelus dada aja. Aku cuma nggak mau anakku nanti salah jalan dan menghancurkan hidupnya sendiri seperti yang sering ada di sekitar kita sekarang.

Biarlah orang berkata apa tentang pemikiranku dan Mas Wisnu, yang pasti kita sudah merencanakan dan mempersiapkan diri mulai dari sekarang. Hasilnya dapat terbukti nanti, biar waktu yang berbicara. Biar Allah yang menunjukkan jalan terbaik termasuk aku dan Mas Wisnu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s