I’m (NOT) an Angel

Kadang banyak orang membutuhkan waktu untuk diam saat mengalami peristiwa buruk dan ada banyak orang yang butuh bicara dan berteriak. Aku pernah membaca tentang emosi sesorang yang bila tidak dilampiaskan akan menjadi ganguan kejiwaan. Aku yang mengerti akan hal itu dan aku termasuk seseorang yang tidak bisa menyembunyikan emosiku dihadapan orang lain saat mengalami hal buruk.

Tapi aku selalu mencoba menyembunyikan emosiku di hadapan orang lain dan seringnya itu berhasil meyakinkan banyak orang kalau aku memang baik-baik saja. Padahal dalam hati ini menjerit kesakitan. Aku butuh cerita, teriakku.

Sayangnya hidup terlalu sepi untuk menerima setiap cerita kesedihan dan kesakitan. Tapi aku hanyalah manusia sederhana. Aku butuh mencurahkan masalahku saja. Dulu saat aku masih senang menulis di atas buku diary, aku selalu menulisnya. Setiap detail yang terjadi hari itu selalu kutuliskan. Tapi ternyata usia ini membuatku kehabisan waktu untuk sekedar membagi cerita, perasaan dan pengalaman yang terjadi setiap hari.

Facebook membantuku menyalurkan setiap detail perasaan yang tidak sanggup aku ceritakan. Kadang aku butuh teman untuk menjawab setiap masalahku tapi ternyata dengan menyatakan segala perasaan sederhana itu sudah cukup bagiku. Marah, sedih, senang, kecewa, dan putus asa sering aku jadikan status di facebook. Tujuanku hanya meluapkan perasaan saja.

Mungkin banyak orang yang mengatakan, jangan terlalu ekspresif di facebook agar orang lain tidak tahu bagaimana karaktermu. Jujur, aku tertawa. Kalau anda mau tahu karakter seseorang jangan hanya dilihat dari status facebooknya saja. Bisa saja itu penipuan karakter. Kalau anda ingin mengenal seseorang, bicaralah banyak hal dengannya dan cari tahu bagaimana sudut pandangnya terhadap suatu masalah. Menguntit facebook atau account social media seseorang hanya untuk mencari tahu karakter seseorang itu tidaklah bijaksana.

Ada satu kejadian yang jujur sangat menyakiti perasaanku karena mengatur tindakanku. Aku tidak suka orang lain yang belum mengenalku tiba-tiba menyuruhku melakukan hal yang bukan aku. Hanya karena aku pernah update status tentang keluargaku dan pernah juga sedikit menyindir keluarganya pacarku (tanpa sebut merk lhoo yaa), ibunya pacarku menyuruh dia untuk putus sama aku. Alasannya takut aku nanti akan membocorkan masalah keluarga saat sudah berkeluarga. Ada benarnya juga siih yang dibilang.

Tapi aku rasa, aku bukanlah orang yang seperti itu. Orang lain boleh deh  mencari celah untuk menghancurkanku, tapi aku akan terus tumbuh seperti lumut. Sebenarnya, jika tidak terlalu meyakitkanku atau tidak menghentakku, aku juga tidak akan menuliskannya di facebook. AKU PASTI MASIH SANGGUP MENGHANDLE. Jadi yang aku tulis sebagai status di facebook itu bener-bener curhatan yang paling dahsyat yang pernah aku rasain dan aku tidak sanggup kalau hanya menahannya di dalam hati. Bisa sakit jiwa aku nanti.

Sampah itu mau disimpan sampai kapanpun dan dimanapun kalau memang busuk pasti baunya akan tercium juga. Aku tahu aku tidak sempurna. Aku melewati banyak kejadian dalam  hari-hariku yang membuat jiwa ini penuh dengan sampah. Dan aku membuangnya di facebook. Ya, facebook buatku adalah tempat sampah ternyaman yang aku punya.

Dulu aku selalu punya orangtua yang mau mendengar semua curhatanku, tapi semakin hari aku semakin dewasa dan mulai belajar mengendalikan hidupku sendiri. Sampai akhirnya aku mempunyai teman dekat. Aku bisa curhat sepuas hatiku saat aku resah, sedih, marah atau kecewa. Selalu ada balasan dari setiap smsku. Tapi berjalannya waktu, mereka semikin sibuk dengan kehidupannya sendiri dan tidak mempunyai waktu untuk dibagi denganku.

Sampai akhirnya, aku punya pacar yang selalu setia mendengarkan setiap keluh kesahku, kecewaku, sedih dan marahku. Tapi semakin bertambahnya waktu, mungkin dia jenuh dengan segala ceritaku dan menanggapi semuanya cukup dengan satu kalimat, iyaa.. kamu yang sabar.Tanpa diberitahu, aku juga akan sabar menghadapi setiap cobaan. Kalau gak, udah pasti aku bunuh diri. Ya kan?

Jadi di facebook aku bebas menulis sesuka hatiku. Kalau memang tidak suka dengan status yang aku tulis cukup acuhkan atau bahkan remove aja. Kenapa dibikin susah? Kalau bingung dengan sifatku yang ekspresif dan takut aku membocorkan ‘kejelekan’ orang lain, gampang aja kan, jangan berkelakuan jelek.

Kalau melarangku berbicara, berpendapat, mecurahkan perasaan, sama aja melanggar HAM milikku. Aku masih manusia, bukan malaikat. Kalau ada kesalahan atau kejelekan di aku, harap dimaklumi dan didoakan agar aku bisa insyaf. Masalah beres kan? Tidak perlulah sampai balik menjelekkanku, memfitnahku dengan apa yang belum aku lakukan. Kalau memang belum mengenalku, mending kenalan secara langsung aja. Tidak usahlah menguntit update statusku dan mengira-ngira dengan pemikiran sendiri aku orangnya seperti apa. Itu lucu banget!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s