Haruskah ada PAUD??

Assalamualaikum semuanya..
Sebenarnya sudah dari kemarin malam ingin banget bikin postingan ini. Tapi karena tidak punya laptop yang bisa digunakan jadinya harus bersabar nunggu hari Senin biar bisa bikin postingan di kantor. Hhehe.. Pasti heran dengan judul di atas. Postingan ini muncul dari pengalamanku kemarin waktu menjadi salah satu panitia acara Wisata Komuter (Wiskom) yang diikuti anak-anak PAUD. Semua sudah tahu kan PAUD atau yang kepanjangannya Pendidikan Anak Usia Dini itu semacam sekolah yang isinya bermain sambil belajar untuk anak usia 3-4 tahun sebelum akhirnya anak-anak itu masuk TK (Taman Kanak-Kanak).

Waktu itu yang membuat saya tersentak ada satu kejadian di mana ada seorang anak laki-laki yang nakaaal banget. Anak itu didampingi sama ibu kandunganya di acara Wiskom. Tapi lucunya, saat dia berulah dan ibunya menegur, anak itu cuek. Begitu bunda PAUDnya yang menegur, anak itu jadi nurut. Kalau saya yang jadi ibu anak itu, jujur aja pasti ada perasaan yang nyesek banget. Kenapa anakku bisa lebih nurut sama orang lain daripada sama aku? Pasti saya ada pikiran seperti itu. Tapi nyatanya, yang terlihat kemarin sang ibu dengan cueknya melihat sikap anaknya itu. Malah terlihat membiarkan Bunda PAUDnya yang mengatur anaknya. Seakan-akan tidak merasa memiliki anak itu.

Dari sini saya melihat perubahan perilaku orangtua di jaman sekarang, khusunya ibu. Buat saya, PAUD itu tidak terlalu perlu untuk anak-anak. Usia anak yang baru 3-4 tahun itu harusnya menjadi saat-saat terdekat anak dengan orangtuanya. Ibu yang harusnya menjadi media utama dan pertama yang mengajari anak untuk dapat bermain sambil belajar. Bukan PAUD. Ibu yang harusnya lebih kreatif untuk mencerdaskan anak-anaknya, mengajari hal baik untuk anaknya, mengajari kebiasaan berbudi untuk anaknya. Bukan PAUD. Menurut saya, usia 3-4 tahun lebih baik digunakan ibu-ibu untuk menguatkan karakter anaknya di rumah sebelum sang anak dimasukkan ke TK. Karena di TK, sang anak mulai belajar mengenal banyak orang dan mulai belajar mandiri.

Mungkin adanya PAUD ini yang katanya ibuku program dari pemerintah, malah membuat para ibu-ibu kehilangan kedekatan dengan anaknya. Karena aku berani bertaruh, setelah anak-anak mereka ditaruh di PAUD, begitu pulang ke rumah, apa ibu-ibu itu akan mengajari anak mereka lagi? Saya rasa TIDAK! Ibu-ibu sudah sibuk dengan urusan mereka sendiri. Anak-anak dibiarkan bermain sendiri atau disuruh tidur. Ibu-ibu merasa dengan memasukkan anak mereka ke PAUD, mereka sudah mencukupi kebutuhan anak akan pendidikan.

Saya ingat sekali dengan pelajaran sosiologi di waktu SMA. Keluarga adalah tempat pendidikan pertama untuk anak. Apalagi di usia dimana otak berkembang sangat pesat, harusnya hal ini menjadi kesempatan para ibu untuk membangun kecerdasan anak tapi juga tidak melupakan kedekatan dengan anak. Contoh yang saya utarakan di atas membuktikan, anak seusia tersebut sebaiknya jangan disosialisasikan dahulu dengan banyak orang karena karakternya belum terbentuk di rumah.

Anak kecil memang aktif tapi sebagai orangtua harusnya bisa mengarahkan anak yang masih kecil itu. Bukan orang lain. Karena nantinya karakter mereka akan menjadi seperti ini, nurut dengan perintah orang lain tapi tidak nurut dengan orangtuanya sendiri. Banyak cara kok untuk melatih kecerdasan anak usia dini tanpa harus memasukkan ke PAUD. Tinggal para ibunya yang harus smart dan mau meluangkan banyak waktu. Menurut pengamatan saya, yang dilakukan di PAUD itu bisa dilakukan di rumah. Misalnya, belajar menyanyi, membaca, mengenal huruf atau angka. Ibu-ibu yang smart akan punya banyak cara agar anaknya banyak belajar darinya, bukan orang lain. Ibu bisa membawa anaknya ke toko buku dan membeli banyak buku untuk dibaca di rumah. Ibu bisa mengajari anak menggambar, menyulam, menari, menyanyi di rumah. Ibu bisa mengajak anaknya ke taman untuk bermain atau ke kebun binatang untuk mengenal hewan. Banyak cara untuk membelajari anak.

Mungkin karena di jaman sekarang banyak ibu-ibu yang juga wanita karier itu makanya lebih mempercayakan anak-anaknya pada orang lain. Di rumah, anak sudah dititipkan ke baby sitter atau kakek neneknya. Di PAUD, anak dititipkan ke bunda PAUDnya. Lalu kapan waktu untuk ibu mengajarkan anak-anaknya hal yang baik yang nantinya menjadi karakter mereka?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s