Cita-Cita Simpelku

Pagi ini saat aku berangkat ke kantor, aku melihat seorang wanita berjilbab panjang hitam, mirip sekali seperti wanita yang di Arab. Wanita itu membonceng dua orang anaknya menuju sebuah TK di dekat kantorku. Aku perhatikan teryata cuma satu anak saja yang ke sekolah. Dalam hatik ada perasaan aneh. Timbullah sebuah tanya. “Kapan ya aku bisa seperti wanita itu?” Mungkin banyak yang bertanya mengapa aku ingin seperti wanita itu. Hmm.. Naluri keibuanku dan mungkin juga naluriku sebagai wanita yang menjelaskan semua itu Mungkin sekarang banyak sekali perempuan yang lebih suka ada di luar rumah. Sebenarnya aku, aku lebih nyaman di dalam rumah. Di dekat keluargaku, melakukan banyak hal yang ringan dan simpel di dalam rumah. Tapi mungkin karena tuntutan jaman sekarang dimana seorang perempuan harus mandiri dan mampu melakukan hal yang dikerjakan oleh laki-laki. Bahkan di umurku yang sekarang, dimana seharusnya aku masih mampu bersenang-senang menikmati masa remaja, aku malah bekerja. Tapi aku bangga dengan diriku ini. Mungkin juga ini jalan dari Allah SWT untukku agar cita-citaku yang sebenarnya tewujud.

Akhir-akhir ini aku sering sekali bertanya, apa sebenarnya cita-citaku? Apa yang sebenarnya ingin aku raih selama aku hidup? Apa gunanya aku hidup di dunia ini sebagai perempuan? Mengapa aku tidak terlahir sebagai laki-laki? Akhirnya aku mendapatkan sebuah kesimpulan atas diriku ini. Aku ingin menjadi seorang istri dan ibu yang berhasil membawa keluargaku masuk ke surga. Terdengar muluk ya? Hehehe. Bukan muluk lagi deeh tapi buatku itu rasanya tidak mungkin terjadi. Lihat saja diriku yang sekarang seperti apa. Sama sekali tidak seperti wanita muslimah di atas. Aku masih mengumbar auratku, masih sering berdekatan dengan teman laki-laki, masih punya pacar, dan lain-lain. Rasanya jauuuuuh sekali dari apa yang aku cita-citakan ya? Hehehe..

Tapi bukan cita-cita kalau susah diraih. Bukan cita-cita kalau tidak banyak halangan saat meraihnya. Mungkin semuanya heran. Kenapa Lies kamu susah-susah kuliah manajemen, bayarnya mahal, ngehabisin separuh harimu tapi ternyata cita-citamu cuma jadi ibu dan istri? Pertanyaan ini sempat dilontarkan oleh salah satu dosenku dan aku hampir dibuatnya nangis karena caranya bertanya dengan nada menyindir. Jujur saja, aku merasa harga diriku dijatuhkan di hadapan orang banyak. Tapi aku masih cukup kuat untuk membalasnya dengan senyum.

Well, alasan sebenarnya kuliah itu, yang paling utama yaitu mengangkat nama orangtuaku. Karena orangtuaku cuma lulusan SMA dan mereka ingin anak-anaknya berpendidikan tinggi. Walaupun orangtuaku bukanlah termasuk kaya tapi mereka mengusahakan agar aku dapat mengangkat nama keluarga. Dengan menjadi seorang sarjana, aku mampu melamar pekerjaan dengan gaji yang lebih baik lagi sehingga dapat membantu ayah ibu. Itu yang pertama. Yang kedua, aku ingin menjadi istri yang seimbang untuk calon suamiku nanti. Ada hadist yang mengatakan, jodohmu adalah yang ‘serupa’ denganmu. Karena aku senang dengan laki-laki yang pintar dan berpendidikan, aku berharap laki-laki yang seperti itu yang akan menjadi jodohku nantinya. Makanya, aku berusaha menjadi wanita yang layak dipilih untuk pendamping laki-laki yang pintar dan berpendidikan.

Dan yang terakhir, aku ingin menjadi ibu yang baik buat anak-anakku nanti. Apa hubungannya Lies? Apa kalau tidak kuliah tidak bisa menjadi ibu yang baik? Tidak masalah menjadi ibu tanpa kuliah untuk jaman sekarang. Tapi untuk jaman ke depan? Dimana orangtua dituntut menjadi lebih terbuka dan lebih pintar pemikiran dan sikapnya dari anak-anaknya. Orangtua yang tidak mempunyai kemampuan seperti itu nantinya akan kesusahan dalam mengontrol anak. Kalau anak sudah susah dikontrol, yaah tidak usah heran kalau semakin banyak pergaulan bebas di jaman mendatang.

Ternyata susah ya menjadi orangtua? Menjadi istri juga jauh lebih susah. Banyak sekali cobaan dari berumahtangga. Kalau bukan karena seorang wanita yang hebat, rumahtangga itu akan hancur. Mengapa? Karena istrilah yang menjadi pemimpin di rumah suaminya. Dan istrilah yang membuat suami merasa rumah itu adalah surga sehingga tidak ada keinginan untuk meninggalkan rumah itu demi hal-hal yang tidak membahagiakan. Padahal seperti yang kita tahu, laki-laki mudah sekali tergoda dengan dunia luar. Bagaimana caranya agar suami masih menganggap tempat terindah adalah rumah? Itulah keahlian sang istri muslimah yang hebat.

Jadi sebenarnya cita-citaku simpel kok. Aku sekarang kuliah dulu sampai lulus. Kerja dulu untuk belajar menjadi mandiri. Kemudian, bila saatnya sudah tepat, akan ada laki-laki yang ‘serupa’ denganku melamar ke orangtuaku. Kemudian kami menikah dan hidup berdua di rumah kami sendiri walaupun mungkin itu rumah kontrakan. Tak apalah, yang penting tidak tinggal dengan orangtua. Selama itu, aku akan belajar masak, membersihkan rumah dan pekerjaan yang dilakukan perempuan. Aku akan menjadikan rumah sebagai tempat ternyaman untuk suamiku dimana ada kebersihan, ketenangan dan juga senyuman dari aku. Kalau suamiku membolehkan aku bekerja, aku akan bekerja. Tapi kalau tidak dibolehkan, ya aku di rumah. Tapi aku sudah memutuskan, jika aku punya anak, aku tidak mau kerja. Kalaupun aku kerja, aku melakukannya dari rumah. Mungkin aku bikin kue terus aku jual, bisa juga bikin katering, bisnis online atau mungkin suamiku mau membuatkan aku warung kecil di depan rumah. πŸ™‚

Terdengar membosankan ya? Tapi sebenarnya, banyak hal kecil yang menyenangkan yang bisa dengan tenang aku lakukan di rumah. Aku bisa merawat bunga, membuat kue, membuat masakan yang enak, membaca buku, menonton film, pokoknya banyak hal menyenangkan. Nantinya kalau bosan di rumah, aku bisa mengajak suamiku jalan-jalan keluar. Semoga saja dapat jodoh yang pengertian ya.. Aamiin.. πŸ™‚ Kalau soal kaya atau miskin, aku tidak pernah memasalahkan jodohku itu harus kaya atau tidak. Yang penting suamiku punya sifat tidak tegaan melihat istrinya kelaparan sehingga berusaha mencari rejeki. Di dalam pikiranku, menikah itu enak. Dan banyak sekali manfaatnya di kehidupan manusia.Β  Tapi apakah aku sanggup meraih cita-citaku? Insya Allah.. Doakan ya.. πŸ™‚

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s