Menikah???

Beberapa hari yang lalu aku sempat bikin status di facebookku. Yang bunyinya, cinta tidak selalu menjadi suami. Suami tidak selalu menjadi cinta. Tapi akan lebih berarti kalau cinta sama dengan suami. Kenapa aku tiba-tiba bikin status yang agak sedikit makjleb ini? Bukan karena aku udah pengen punya suami. Kan udah aku jadwalin buat married itu sekitar 5 tahun lagi. Tapi karena aku sering banget ngeliat fenomena yang terjadi di sekitarku. Di mana pernikahan yang untuk seumur hidup itu dilakukan tanpa ada rasa cinta.

Oke, awalnya aku berpikir mungkin cuma orang-orang pada jaman dulu aja yang mau melakukan pernikahan tanpa dasar cinta. Tapi nyatanya, di tahun 2012 ini masih ada yang menikah tanpa dasar cinta. Mereka terpaksa melakukan pernikahan karena banyak faktor. Misalnya, sudah dijodohin sama orang tua, faktor ekonomi yang kurang untuk masa depan, dan mungkin juga karena umur sudah terlalu tua, jadi daripada dibilang ‘ga laku’ akhirnya mereka terpaksa menerima lamaran dari orang yang tidak mereka cinta. Tapi ada satu pertanyaanku, apa benar berkeluarga itu harus dengan cinta? Bagaimana jika tidak ada cinta, bukankah cinta tumbuh dengan seiring berjalannya waktu?

Sampai akhirnya aku bertanya dengan temanku yang mau melakukan pernikahan dalam waktu dekat ini. Yang bikin aku heran, walaupun dia sudah tahu akan menikah, tidak tampak sedikitpun kebahagiaan di dirinya. Yang mana biasanya saat melakukan pernikahan itu ada saat yang menegangkan dan menyenangkan. Siapa yang tidak bahagia bila bisa hidup berdua dengan kekasih yang selama ini sudah menemani hari-hari kita? Tapi ternyata temanku itu mengatakan hal lain. ‘Aku tidak mencintai calon suamiku karena cintaku sudah aku berikan kepada orang lain’.

Jujur aja aku kaget, apalagi setelah dia bilang, Dia itu calon suamiku tapi bukan my love. Hmm.. Jadi seperti inikah sebagian pernikahan di sekitar kita? Lalu bagaimana dengan keluarganya nanti? Sering aku dengar dan mengalami berteman dengan anak dari keluarga broken home. Setelah aku perdalam lagi, ternyata orang tua mereka tidak menikah atas dasar cinta. Mungkin ada yang bertanya, kenapa kalau tidak cinta tapi bisa punya anak? Naah.. Kita lihat aja, anak itu lahir dari suatu hubungan badan yang sebenernya dipengaruhi oleh nafsu. Tanpa peduli mereka cinta atau tidak, jika mereka sudah bernafsu untuk berhubungan badan, kenapa tidak? Itu yang nantinya bisa melahirkan keturunan.

Tapi yang jadi masalah adalah keluarga untuk ke depannya. Mungkin yang menikah karena orang tua yang menjodohkan, awalnya bisa bersikap biasa dan mungkin ada perasaan untuk bisa saling mencintai pasangan. Tapi apa itu semua belaku untuk semua orang? Bagaimana jika pasangan itu mengalami perbedaan pemikiran atau sikap yang pada akhirnya  bisa memicu pertengkaran? Karena sulit untuk kedua orang yang tidak saling mengenal untuk bisa mengalah. Berbeda dengan kedua orang yang sudah mengenal kepribadian masing-masing, sehingga bisa menentukan sikap terbaik apa yang harus diambil dalam sebuah persoalan bersama.

Ada juga yang menikah karen alasan ekonomi. Mungkin seperti cerita Siti Nurbaya. Akhirnya, sebuah pernikahan itu dinilai dari uang dan materi. Tidak ada sikap saling memiliki dan mengerti. Pada akhirnya, jika yang memiliki uang mengalami kemiskinan, hubungan pernikahan mereka juga akan runtuh. Begitu juga dengan kebalikannya, jika yang memiliki uang bertambah makmur dan kaya, bukan tidak ada alasan untuk berpoligami atau selingkuh. Itulah yang juga harus dihindari. Bagaimana nasib psikologis anak-anak yang melihat salah satu atau bahkan kedua orang tuanya berselingkuh tanpa ada rasa bersalah? Atau nasib psikologis anak yang melihat kedua orang tuanya bercerai karena yang satu jatuh miskin?

Dan yang mungkin menikah karena umur tua sudah memanggil dan pada akhirnya menerima siapa saja yang melamarnya. Pada awalnya mungkin dia mencoba mencintai pasangannya, tapi bila ternyata dia mencintai orang lain? Apa kehidupan rumah tangganya tidak dipenuhi oleh kebohongan? Demi membahagiakan orang lain, dia rela menyembunyikan perasaannya. Tapi sampai kapan perasaan itu akan bertahan? Bila tiba waktunya, pasti rasa itu akan terbongkar dan menimbulkan perpisahan.

Ada yang bilang, jika sudah saling mencintai kenapa masih berpisah? Itu tandanya cinta yang mereka punya tidak cukup untuk bertanggungjawab membentuk keluarga yang bahagia. Cinta yang mereka punya hanya cukup untuk menyatukan perasaan saja, tapi tidak untuk membangun sebuah rumah yang aman, sejahtera dan bahagia. Apa perlu kita bahagia hanya dengan kata-kata saja? Tidak, jika mereka benar saling mencintai, mereka akan berjuang agar mereka bisa selalu bersama dalam suka dan duka. Mereka yakin bahwa yang mereka nikahi itu adalah pasangan yang dipilih Allah swt untuk menemani mereka menjalani hidup yang cuma sekali ini.

Yaah.. Memang tidak mudah memilih pasangan yang saling mencintai dengan kita. Tapi ada baiknya jika kita bisa lebih dulu mencintainya sebelum memutuskan untuk menikah. Menikah itu adalah cara membawa kebahagiaan dalam hidu, baik di dunia maupun di akhirat. Bagaimana jika kita membohongi indahnya pernikahan itu sendiri? Yang ada hanyalah kehancuran. Bukan cuma diri sendiri terutama hatinya yang hancur, tapi juga masa depan anak dan keluarga. Menikah harus dengan sepenuh jiwa raga, penuh kebahagiaan lahir batin sehingga bisa dipertahankan hingga waktu memisahkan kita dengan pasangan.

Mungkin banya yang bertanya, emang kamu udah pernah nikah Lies? Aku jawab aja, ya belum lhaa.. Aku kan udah bilang masih sekitar 5 tahun lagi untuk menikah. Tapi kok kamu bisa bicara soal pernikahan itu? Karena aku melihat, merasa dan berpikir dengan otak dan hatiku. Aku melihat begitu banyak realita yang bisa dijadikan pelajaran hidup. Dan aku berusaha menjadikannya prinsip dan pegangan hidupku. Manusia yang hidup tanpa pegangan yang kuat,merekalah manusia yang lemah. Ada banyak yang bisa kita jadikan pegangan seperti, Al Quran, sunnah Rasul, pengalaman kita sebelumnya, pengalaman teman kita, pengalaman di sekitar kita dan masih banyak lagi. Karena itulah tujuan kita sebagai manusia untuk hidup. Untuk bertahan dalam satu jalan yang telah ditetapkan oleh Allah swy yang sudah diatur dengan begitu indahnya untuk kita. Tinggal kita saja yang harus mengerti dan memahami makna hidup. Maka menikahlah dnegan orang yang bisa membuatmu beruntung terlahir di dunia ini dan bisa tenang menuju akhir kematian ini. 🙂

Iklan

4 thoughts on “Menikah???

  1. seperti apa yg terjadi pd ku…………………….,,, skg aq jd kayak mayat hidup… tidak diakui anak oleh orang tua qu, karena aku memilih pasangan qu sendiri…. mungkin dia memang bukan yang terbaik,, tapi dengannya aq merasa bisa menjadi yang terbaik…….

  2. semoga saja dengan berjalannya waktu, ortunya mbak bisa menerima. Mbak buktikan juga ke ortu kalau pilihannya mbak itu memang yang terbaik buat mbak. semangat ya mbak.. 🙂

  3. Dalam waktu dekat aku akan dilamar oleh teman kuliahku, ini kedua kalinya dia menyatakan melamar, setelah setahun yg lalu aku memilih mundur. Dia laki-laki dr keluarga broken home, dibesarkan oleh Kakak Ibunya, agamanya baik, umurnya sudah hampir kepala empat, dia bekerja dan punya bisnis niaga dengan temanya, masalahnya adalah, ya hatiku tidak pernah merasa condong denganya…
    Bukanlah alasan menikah itu karena Agama? Apakah cinta menjadi alasan utama untuk tidak memilihnya? Apa salah dia kalau aku menolaknya lagi?

  4. Apa mbak Nadya mencintai orang lain? Kalau menurut mbak laki-laki itu lebih baik drpd yg mbak cintai, kenapa harus ditolak mbak? Lebih baik kita memilih orang yg mencintai kita daripada orang yg kita cintai tapi tidak serius ke kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s