What is a True Love?

Aku sering mengalami peristiwa yang gag diduga. Bukan karena kelakuanku lhaa.. Tapi dari ulah orang-orang di sekitarku. Yang sering banget aku menahan napas. Betapa zaman udah merubah sifat dan kelakuan. Betapa pacaran itu sekarang bukan awal dari pernikahan yang bisa sangat sakral. Tapi merupakan cara agar bisa menikah.

Ini cerita berasal dari undangan teman lama, teman SMP yang datang di bulan Mei kemarin. Dulu sering banget bareng pas pulang naik bemo. Anaknya sebenernya cantik dan pendiem. Tapi yaaah.. Lagi-lagi kita harus nurut sama pepatah, Don’t jugde a book by it’s cover. Ini anak suatu hari di saat aku sedang bingung memikirkan masas depanku dimana yang tak jauh dari karir dan study, dia tiba-tiba membuatku shock. Dia ngirim undangan pernikahannya. Secara mendadak!! Dan di usianya yang masih muda banget. Sekedar ngingetin, aku dan dia kan seumuran, dan aku masih 19 tahun. Otomatis dia juga masih 19 tahun.

Aku jujur aja, sedikit shock yaa.. Kug cepet-cepet nikah siih.. Tapi aku gag mau negatif thinking dulu tentang dia. Akhirnya aku ditemani dua sahabatku dan tentu aja pacarku, dateng ke pesta pernikahannya yang sederhana banget menurutku. Aku gag curiga sama sekali dan ikut bahagia atas pernikahannya. Sampai suatu hari aku tau kenapa ada undangan yang datang mendadak itu.

Di suatu siang di kantor, berhubung aku tidak ada kerjaan aku buka facebookku dan kebetulan temenku ini bikin status, “seneng bgt dech lw setiap saat suami q slu kci ciuman syg bwt q n ank q”. Dari situ aku curiga. Masa baru dua bulan kok udah punya anak? Lalu aku coba buka profilnya dan dengan shocknya aku menemukan status-status yang mendukung kecurigaanku misalnya seperti, gerakannya semakin aktif.. mkin gag sbar q.. atau snengnya bsa ngrasain dy tumbuh dan berkembang.. dan yang paling bikin aku shock adalah statusnya, tak terasa uda 5 bulan.. semakin bisa merasakan gerakkannya.. menyenangkan.. Dari itulah, otakku mulai berpikir.. Dia bilang udah 5 bulan pas bulan Juli ini, berarti pas dia nikah (bulan Mei) dia udah hamil duluan 3 bulan!!! Seriuusss.. Aku sangat shock banget.. Kug bisa sangat mirip kayak lagu dangdut siih. OMG!!!

Cerita kedua yang tak jauh beda, datangnya gag jauh-jauh. Dari mas sepupuku sendiri. Awalny kecurigaanku adalah pas aku lihat profil facebooknya yang berganti menikah dengan (bla.. bla.. blaa.. dirahasiakan oke?). Aku bingung, ini serius apa tidak? Akhirnya aku coba tanya ke ibuku. Ibuku agak heran juga dengan pernyataanku itu secara ibuku tidak menerima undangan dari mas sepupuku itu padahal aku dan mas sepupuku itu lumayan deket. Akhirnya aku coba buat ngelupain aja. Mungkin cuma status.

Sampai akhirnya, mas sepupuku ini upload foto bayi, lengkap dengan foto pernikahan dia. Jelas aja ibuku langsung heboh dan menghubungi adeknya (yaitu tanteku). Tante-tanteku banyak yang tidak percaya bahkan nganggap hal yang sama, itu cuma status. Tapi aku tegesin, itu bukan status lagi tapi FOTO!!! Akhirnya tante-tanteku tanpa ibuku dateng ke rumah mas sepupuku itu. Betapa shocknya mereka begitu tahu ternyata mas sepupuku itu, udah menikah! Yang lebih shocknya lagi, mas sepupuku itu menikah setelah BAYINYA udah lahir 3 bulanke bumi. Bisa bayangkan betapa shocknya keluarga ibuku. Karena memang mas sepupuku itu dari keturunan ibu.

Dari dua cerita tadi, aku cuma bisa berdoa. Semoga aku dijauhkan dari hal yang memalukan itu. Cinta memang indah tapi akan lebih indah lagi setelah diikat dengan ikatan abadi yaitu pernikahan. Dan bukan hal yang baik jika melakukan hal yang harusnya dinikmati oleh sepasang pengantin baru sebelum pernikahan itu sendiri terjadi, bahkan sampai menghasilkan janin atau bayi.

Betapa hidup itu punya aturan yang bila kita mengikuti alur, akan terasa indah. Pacaran sendiri tidak harus dilakukan dengan hal yang berlebihan itu. Pacaran adalah cara mengenali sifat lawan jenis yang nantinya akan dipilih. Bukan media percobaan sebelum akhirnya kita memilih dia. Jika seperti itu, apa jadinya dengan orang-orang yang tidak terpilih? Berakhir seperti sampah begitukah? Apakah  tidak lebih indah jika bersatu dengan hati dulu yang kita sebut dengan pacaran itu, setelah kita yakin hati kita telah menemukan belahan jiwa yaitu pasangan kita, bisa melanjutkan dengan proses lamaran dan pernikahan. Dan memulai hidup sebagai anggota keluarga sendiri, membentuknya agar nyaman ditinggali hingga masa tua. Betapa indahnya cinta yang seperti itu. Cinta yang disatukan oleh takdir dan waktu. Cinta yang berjalan apa adanya tanpa dipaksa oleh nafsu atau orang lain. Dan nanti hasilnya adalah keluarga yang selamanya bahagia dan utuh di dunia dan akhirat. Betapa itulah tujuan akhir manusia diberikan perasaan cinta dan kasih sayang itu.

Aku tidak mau menyalahkan dua cerita di atas. Aku hanya bisa mengatakan, janganlah memperbanyak cerita-cerita di atas yang mana akan menambah daftar malu keluarga. Yang hidup sebagai remaja, belajarlah mengenal cinta yang tulus dari hati. Yang sudah dewasa, belajarlah mencari cinta yang terbaik untuk dunia dan akhiratmu. Cinta bukan untuk ditakuti, bukan pula untuk disembah. Cinta itu hadir untuk membuat kita lebih mengerti arti hidup. Seperti yang sekarang aku rasakan, aku semakin cinta dengan hidupku dan aku tidak mau merusaknya dengan sikap cinta yang salah. Aku semakin cinta dengan keluargaku dan aku tidak mau membuat keluargaku malu dan sedih dengan sikap cinta yang salah. Dan aku mencintai belahan jiwaku yang nantinya akan menjadi suamiku dan ayah untuk anakku sampai akhir hidupku dan aku tidak mau membuatnya bersedih karena sikap cinta yang salah.

Apa yang disebut cinta sejati, memang harus dimiliki. Tapi dengan orang yang tepat, waktu yang tepat dan di tempat yang tepat juga. Tentunya harus dipersatukan dengan ikatan abadi. Pernikahan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s