Karena Ini Aku Bersyukur. .

Aku gag pernah ada maksud buat ngebanggain keluargaku kalo keluargaku perfect dan gag ada masalah. Keluargaku juga pernah melewati masa-masa kehancuran yang juga pernah banget bikin aku down. Bahkan barengan dengan masalah sekolah, teman dan juga pacaran (pada saat itu). Aku pengen banget tiap hari nangis dan nangis. Teriak berontak dan lari. Tapi aku berpikir lagi.. Apa dengan ini semua akan selesai? Aku coba bertahan dengan segenap harapanku yang masih tertinggal sedikit. Harapan bahwa suatu saat masalah ini pasti selesai.

Setiap hari, aku dengar ayah dan ibuku betengkar karena salah paham. Aku sebagai anak pertama setiap hari harus mendengar curhatan ayah dan ibuku dari sudut yang berbeda. Mereka gag tau kalo aku sendiri juga punya masalah pribadi. Tapi aku gag prnah bilang. Aku cuma simpan dalam tulisan. Pada saat yang sama, aku berada dalam lingkungan sekolah yang gag aku suka. Aku juga kekurangan materi sampai-sampai aku harus puasa karena gag punya uang buat jajan. Sementara teman-temanku saat itu gag ada sedikitpun rasa kasihan melihat aku yang lemas karena kurang makan. Yaah.. gag cuma di sekolah saja aku gag makan, di rumahpun aku sering kehabisan makanan. Padahal tiap hari aku pulang sekolah sore hari.

Bayangkan, tanpa makan hanya minum. Aku harus belajar dari pagi sampai sore tanpa buku pelajaran, hanya mendengar penjelasan guru dan aku catat di buku tulisku yang tipis (ayahku gag mampu beli buku tulis yang tebel). Kalo ada ulangan, modalku cuma belajar dari catatanku yang seadanya itu. Beda dengan teman-temanku (yang waktu itu kelas unggulan), mereka belajar dari buku paket, internet dari laptop mereka. Aku iri. Paginya, sejam sebelum ulangan aku pinjem buku temanku yang gag dipake buat belajar. Aku baca seadanya. Dan yang terjadi juga seadanya, nilaiku pas-pasan.

Sampai akhirnya, aku menjadi pendiam, penyepi dan tertutup. Aku benci dengan teman-teman sekolahku yang seakan gag peduli aku. Halloooo!! Aku juga pengen pinter, aku pengen dapet nilai bagus.. AKU INGIN JADI MURID TERBAIK!! Itu yang sering aku teriakkan dalam hati. Tapi apa? Semua berhenti di materi. Aku mengeluh.. Setiap hari aku selalu dipenuhi keirian dan kebencian melihat teman-temanku yang tertawa. Sampai akhirnya aku berdoa,”Ya Allah, aku sudah tak tahan dengan keadaan ini. Tolong Jauhkan aku dari mereka. Dekatkan aku dengan orang yang bisa mengerti aku. Aku janji akan berubah lebih baik lagi. Aku ingin bisa membanggakan orangtuaku.”

Dan Allah swt dengarkan semua doaku, doa orang yang teraniaya jiwa dan raga. Akhirnya, aku ditempatkan di kelas yang berbeda dari teman-temanku itu. Aku lebih suka kelasku yang baru dan aku bersyukur mendapatkan teman sebangku yang mengerti aku dan mau berbagi semua denganku, Lindah. Lindah itu anak orang kaya tapi hatinya baik. Gag pernah pelit denganku. Aku boleh pinjam buku paketnya kalo besok gag ada pelajaran itu. Dari buku pinjeman Lindah, aku mulai bangkit. Aku mulai memperbaiki nilai-nilai pelajaranku yang harus kuakui buruk. Lindah juga yang selalu memberiku jajan kalo dia tahu aku tidak dapet uang saku. Aku gag pernah minta tapi selalu diberi. Dari sikap baik Lindah itu aku belajar bersyukur. Ternyata Allah swt tidak pernah menutup jalanku dan masih memberiku pertolongan saat aku membutuhkan.

Tapi Allah selalu menguji aku dengan yang lebih berat lagi, UNAS. Aku sabar dan coba memanfaatkan waktuku untuk hal yang lebih berguna lagi. Aku lupakan soal pacaran dan aku fokus pada UNAS. Walaupun tanpa bimbel dan tetap dalam kondisi kekurangan buku pelajaran,aku berharap aku bisa mengerjakan soal sendiri tanpa bantuan orang lain. Dan pada saat UNAS, memang aku bisa mengerjakan sendiri tapi hasilnya tidak terlalu bagus. Itu hasil usahaku selama ini di tengah hidupku yang ricuh. Tapi satu hal yang aku syukuri, aku bisa lewati ini semua tanpa kehilangan jati diriku yaitu semangat dan percaya diri. Aku masih bisa hidup. Aku masih bisa tersenyum.

Aku mungkin kecewa sama apa yang terjadi dalam hidupku yang mungkin gag seberuntung teman-temanku. Tapi aku merasa aku jauh lebih beruntung dari mereka. Karena apa? Karena aku tahu Allah swt sayang sama aku dan sedang mengurangi dosa-dosaku dengan segala ujian yang aku terima. Aku merasa jauh lebih beruntung karena Allah swt tidak memberikanku kenikmatan yang berlebihan yang mungkin nanti akan menjerumuskanku pada hal yang lebih mengerikan. Aku bersyukur Allah swt selalu memberiku apa yang aku butuhkan dan bukan apa yang aku mau. Allah swt selalu mengajarkanku untuk tidak jadi orang yang egois, yang bisa selalu bersyukur dan menjadi manusia yang merasa sangat beruntung. Aku tahu, orang lain yang mengalami peristiwa ini mungkin jarang ada yang bisa tetap bersyukur. TAPI AKU BEDA!! Aku tau akan ada saat dimana ada orang yang akan mencabut anak panah di tubuhku, mengobati lukaku dan mengembalikan kehidupan dan senyumanku. Terimakasih Ya Allah Ya Robbi untuk segala cobaan dan kasih sayangMu kepadaku..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s