SaHaBaTkU. .

Ini adalah puisi karya seorang penyair yang sangat aku kagumi. Dan puisi adalah puisi yang paling aku suka. Karena puisi ini terkadang mencerminkan aku. Aku yang terkadang harus terus berpura-pura. Tapi sekarang aku mencoba untuk tidak menjadi seseorang yang suka berpura-pura lagi di depan orang. Itu sangat melelahkan! Mulai sekarang aku akan berhenti menjadi manusia yang ‘sempurna’. Apa yang tidak aku suka, itu yang aku tunjukkan. Tapi yah, aku ngelihat situasi dulu.. hehehehee.. Puisi ini aku tulis di diaryku, di binderku, di blogku dan sekarang aku tulis di notes facebookku. Untuk mengingatkanku agar tidak menjadi seorang yang suka berpura-pura.

SAHABATKU

karya: Kahlil Gibran

Sahabatku,
Aku tidak seperti yang terlihat.
Pengelihatan itu hanyalah jubah yang aku pakai- sebentuk perhatian,
jubah yang aku pakai untuk melindungiku dari pertanyaan-pertanyaan
dan melindungiku dari kelalaianku.

Aku ada dalam diriku, sahabatku,
tinggal di rumah yang sunyi,
dan di sana aku akan tinggal selamanya, tak terperhatikan, tak tersentuh.
Aku tak ingin kau percaya apa yang kukatakan dan apa yang kulakukan.
Karena kata-kataku hampa,
Tetapi suaraku adalah pikiranmu dan perbuatanku adalah harapanmu dalam bertindak.

Ketika engkau berkata, “Angin bertiup ke arah timur,”
aku berkata,”Ya, dia berhembus ke arah timur,”
karena aku tidak ingin engkau tahu
bahwa pikiranku tidak bersemayam di atas angin
tapi di atas lautan
Engkau tidak akan mengerti pelayaran pikiranku,
akupun tak ingin kau mengerti,
aku ingin sendirian di lautan.

Kalau hari ini adalah siang bagimu, sahabatku,
itu adalah malam bagiku,
bahkan sebelum aku berbicara pada siang hari yang menari-nari di atas lembah
dan pada bayangan lembayung yang mencuri jalan sang lembah,
karena engkau tidak bisa mendengar nyanyian-nyanyian kegelapanku,
tidak juga bisa melihat sayap-sayapku yang membentang menyongsong bintang-bintang
dan akupun tak ingin engkau melihat atau mendengar.
Aku ingin sendirian bersama malam.

Ketika engkau mendaki menuju surgamu,
aku turun memuji nerakaku.
Bahkan ketika engkau berseru mengajakku untuk melewati jurang pemisah yang tak terjembatani,
“Temanku, sahabatku” aku balas berserukepadamu,”Sahabatku,temanku.”
Karena aku tidak ingin engkau melihat nerakaku.
Api neraka akan membakar cahaya matamu
dan asapnya akan memenuhi lubang hidungmu.
Aku terlalu mencintai nerakaku untuk memperbolehkanmu mengunjunginya.
Aku ingin sendirian dalam neraka.

Engkau mencintai kebenaran, keindahan dan kebaikan,
dan aku, demi tujuanmu,
aku mengatakan bahwa itu baik dan aku tampak seperti orang yang mencintai hal-hal itu.
Padahal dalam hatiku aku mentertawakan cintamu itu.
Tapi aku tak ingin engkau melihat tawaku.
Aku ingin tertawa sendiri.

Sahabatku, engkau baik, hati-hati dan bijaksana, tidak,
engkau sangat sempurna dan aku, terlalu, berbicara kepadamu dengan bijaksana dan hati-hati.
Padahal aku gila.
Tapi aku ingin menyembunyikan kegilaanku.
Aku ingin gila sendirian.

Sahabatku, engkau bukanlah temanku,
tapi bagaimana aku bisa membuatmu mengerti?
Jalanku bukanlah jalanmu,
tapi kita berjalan bersama-sama,
saling berdampingan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s