SeHaRi BaREnG aYaH. .

Sehari bareng ayah membuatku semakin mengenalnya. Ayah yang selama ini menyebalkan buatku ternyata memang laki-laki terbaik yang ada di hidupku. Nggak ada yang bisa menempati tempat yang special seperti ayah. Memang selama ini aku paling dekat sama ayah dibandingkan ibu tapi rasanya aku belum cukup mengenal ayahku tapi ayah mengenalku lebih dari siapapun. Pokoknya ayah yang terbaik deh dan aku juga ingin jadi yang terbaik buat ayah…

Sabtu, 1 Mei 2010..
Ayahku akhirnya mau juga mengambil rapot sisipanku. Setelah aku paksa dan setelah aku ingatkan tentang peristiwa sebelumnya saat rapot sisipanku nggak diambil. Kita datang hampir jam setengah sepuluh padahal undangannya jam delapan tapi nggak papa lah,biar ayah nggak terlalu lama nunggunya. Aku udah tahu semua nilaiku nggak ‘bagus’ tapi biasanya ayah nggak terlalu ‘peduli’ dengan nilaiku karena ayah tahu siapa aku. Aku nggak pernah ‘pintar’ di bidang yang pake angka-angka. Dan pengalanman yang lalu, ayah nggak marah walaupun ngeliat rapotku yang ‘agak’ hancur. Tapi kali ini beda, saat ayah keluar kelasku ayah langsung bersikap ‘dingin’. Werrr!!
Ayah bilang kalau aku termasuk ‘anak yang paling sering remidi’ dan berarti aku itu anak yang termasuk ‘goblok’. Wizzz!! Gimana nggak jatuh kejungkel, sejak kecil ayah pasti bilang kata ‘goblok’ disaat aku BENAR-BENAR MENGECEWAIN DIA. Please God, apa itu artinya aku udah ngelukain hati ayah? Ngecewain ayah? Kalo aku bilang sih iya. Aku bayangin dalam posisi ayah dimana dia punya anak pertama cewek yang harusnya ngasih contoh yang baik buat adik-adiknya tapi malah nggak bisa dibanggain sama sekali. Aku bener-bener kecewa sama diriku sendiri, jujur aja.

Ayah nggak ngelanjutin marah dan kecewanya di perjalan pulang ke rumah. Malah dia mampir ke sebuah warung kecil di deketnya PTC dan ngobrol dengan si empunya warung. Setelah aku denger-denger ternyata ngebahas tentang kasus pidana. Wah! Ada hubungan apa sama ayah? Aku sempet panik tapi pura-pura nggak dengar. Ternyata ayahku ngebantu orang yang punya warung kecil itu buat pemecahan dari masalahnya yang anakknya kena kasus penganiayaan. Anak orang itu ngerasa dirugikan dengan penganiyaan satpam di tempat kerjanya. Nah ayahku ngebantu nyari jalan terbaik buat segala pihak. Nah lho! Aku heran banget, gimana caranya ayahku bisa kenal sama orang ini, belum lagi emang kerjaan ayah sebagai apa? Ayahku bukan jaksa penuntut,bukan hakim, bukan pengacara, bukan juga polisi. Emang teman-teman ayah banyak yang jaksa, pengacara, hakim juga polisi. Tapi ayah bukan. Aku memang nggak tahu apa pekerjaan ayah sebenarnya selama ini tapi yang aku tahu ayah selalu dimintain bantuan dari teman-temannya dari kepolisian itu.

Yang lebih anehnya lagi, sepulang dari warung kecil itu aku diajak ayah ke salah satu rumah makan di jalan Mayjend Sungkono. Rumah makannya gede dan rame. Ayah bukannya mau ngajak aku makan tapi mau ketemu sama si empunya rumah makan itu. Begitu ketemu mereka seperti teman dekat. Mereka membahas sesuatu yang penting banget yang menyangkut keluarga si empunya rumah makan itu. Aku yang denger ceritanya aja kaget tapi ternyata ayahku yang dimintain bantuannya buat mecahin masalah ini. Bahkan sebagai tanda terima kasihnya aku dan ayah dikasih makanan yang enak banget, udah gitu ada yang dibungkus dibawa pulang lagi. Waahhh!!! Aku bener-bener ngeliat ayah berbeda banget seperti biasanya.

Saat perjalanan pulang aku tanya ke ayah, “Yah, temen-temennya ayah lho banyak yang orang sukses dan berduit, ayah kapan?” Lalu ayahku jawab,”Semua itu butuh proses. Saat ini ayah sedang menunjukkan imej yang baik dulu, kalo semua orang percaya sama ayah, uang itu mengalir sendiri Lies. Yang penting itu proses, baru hasilnya dilihat.” “Tapi yah, jaman sekarang itu orang-orang butuhnya ngeliat hasilnya aja… Mana ada orang yang ngeliat prosesnya, jarang banget!” “Lha itu yang salah, Lies. Harusnya diubah cara berpikirnya. Nah, kamu ini masih proses jadi orang sukses. Ayah tahu itu. Tapi ayah lihat kamu nggak ada usaha.Buktikan lewat usaha dulu dan kesabaran, nanti hasilnya akan kelihatan.” Aku terdiam.

Aku semakin bangga jadi anak ayahku yang walaupun kadang-kadang jadi tukang ngatur hidupku, tapi aku tahu kalau ayah itu emang cowok terbaik yang pernah ada di dalam hidupku. Ayah nggak pernah salah menilaiku baik atau buruk, ayah selalu berusaha mengenalku luar dalam dan mungkin satu-satunya yang mengenalku, ayah selalu yakin dengan kemampuanku dan selalu mendukungku, ayah selalu ngelindungi aku dari rasa sakit yang kadang aku nggak mengerti, ayah selalu menemaniku di keadaan yang aku yakin orang lain nggak akan ada seperti ayahku, ayah selalu ngasih nasehat yang ngebuat aku berpikir. Ayahku memang bukan pekerja kantoran yang selalu ada uang untuk mencukupi kebutuhanku tapi karena itulah aku belajar untuk mengerti kondisi orang lain dan nggak bersikap egois dengan menghabiskan uang untuk hal yang nggak penting.

Aku bangga punya ayah seperti dia yang walaupun nggak punya uang buat beli mobil, rumah gede, hape canggih, mp4 terbaru atau laptop tapi ayah selalu ngasih sesuatu yang berharga dan penting untuk kehidupanku. Ayah ngasih cara untuk menyanyangi seseorang dengan cara yang berbeda dan ngasih kesempatan untuk berkenalan dengan ‘sakit’ sebelum menerima kebahagiaan. Sehingga suatu saat aku selalu ingat rasa jadi orang yang ‘tidak seberuntung mereka’ dan menghargai ‘orang yang tidak seberuntung mereka’. Aku akan selalu sayang sama ayah apapun yang terjadi. Maafin aku yah jika selama ini sering mengecewakanmu. Aku sangat sayang sama ayah….

Iklan

One thought on “SeHaRi BaREnG aYaH. .

  1. sebelumnya salam kanal yach.
    beruntung sekali qm masih punya ayah,dan masih ada kesempatan buat ngebahagiainya.
    jangan disia-siakan kesempatan itu,
    q bicara begini karena pengalamnku sendiri yg tak sempat membahagiain seorang ayah,sampai akhir hayatnya pun q ngrasa selalu nyakitin beliau.

    bagus sekali ceritanya.

    waahh… aku jadi sangat sangat bersyukur… terimakasih dan salam kenal juga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s