GaRa-gAra TerLaLu CINta

Tiap saat menelepon, mau pergi diikutin, bahkan makanan pun disiapin!
Sounds familiar? Sebetulnya, fenomena ortu yang terlalu sayang dan terlalu kuatir sama anaknya ini sudah sering kita temui. Bahkan mungkin kita adalah salah satu yang mengalaminya. Memag benar, wajar kalau ortu menyanyangi kita, tapi kalau sampai ’berlebihan’, hmm… gimana jadinya ya..??

Too Special
Setiap hari, Arashi harus rela pergi ke berbagai tempat les dan bimbingan belajar bareng mama.Jangankah hang out bareng temen-temen, setiap jam di luar sekolah bener-bener harus dijalaninya di bawah pengawasan Mama. Lain lagi dengan Yua. Setiap kali Yua pergi atau berkenalan dengan teman barunya, sang papa harus ’menyortir’ dulu semuanya.Nggak heran kalau sampai umurnya yang ke 16 ini,Yua masih belum punya pacar hanya karena papa selalu gag setuju dengan semua pilihan Yua.
Ortu Arashi atau Yua adalah contoh dari ortu yang amat sangat sayang sama anaknya. Ada banyak hal yang sebenarnya jadi alasan kenapa ada ortu yang sebegitu sayangnya sama kita, misalnya karena masa lalu ortu atau karena keistimewaan anaknya. Ortu yang punya masa kecil ’kering’ kasih sayang ccenderung memberi kasih sayang yang lebih untuk anak-anaknya. Dia nggak mau anaknya mendapatkan kasih sayang yang kurang seperti dia dahulu. Atau mungkin karena kita sebagai anak dianggap sanga spesial untuknya, alias si ’anak emas’.

Too Special, Too Much!
Nah, rasa sayang yang berlebihan ini kemudian menimbulkan sikap ortu yang menurut kita extraordinary. Misalnya yang dialami oleh Arashi dan Yua, ortu mereka sangat over protective an senang mengontrol kegiatan maupun pilihan anaknya. Hanya karena mereka takut anaknya salah pilih. Nggak hanya over protective aja, ortu yang terlalu sayang mungkin banget jadi kelewatan manjain kita, lho! Saking takktnya membiarkan dan melihat kita gagal atau mengalami kejadian yang nggak enak, ortu kita memilih untuk menyediakan banyak fasilitas dan menyiapkan eluruh hal yang kita butuhkan tanpa memberi ’tantangan’ buat kita untuk mencoba berdiri sendiri.

Too Much, Too Dangerous!
Mungkin pada awalnya, saat kita masih kecil, perlakuan ortu yang sangat spesial ini masih terasa nyaman-nyaman saja. Kita bisa sasntai menikmati posisi sebagai ’ratu’ kecil keluarga. Semua fasilitas sudah tersedia,bahkan kebutuhan kita sudah ada yang mikirin.
Walau mungkin kita merasa berada di comfort zone dab diperlakukan serba khusus dengan limpahan kasih sayang ,kemanjaan dan peraturan dari ortu,kita juga harus menyadari akibatnya untuk diri kita dalam jangka panjang. Seiring dengan bertambahnya umur, kita pasti akan dihadapkan oleh banyak perubahan, mulai dari lingkungan, ketertarikan,tanggung jawab dan tentunya kewajiban.
Jika semua keputusan, langkah dan tindakan kita dipengaruhi ortu, kita jadi terbiasa dan jadi individau yang serba tergantung. Nggak bisa membuat keputusan, nggak bisa bangkit saat gagal dan depresi berat saat ortu nggak ada di samping kita untuk membantu. In8ilah yang disebut dengan sindrom ”Anxious Parent,Angry Child” oleh Dr. Thomas Phalen, seorang pakar psikolog yang menulis buku Effective Discipline for Children. Perilaku ortu yang terlalu over protective ini berdampak pada perubahan jiwa anak yang nggak sehat seperti mudah tersinggung, rendah diri and finally, emosional dan cenderung pemarah!

Too Late?
Nggak ada kata terlambat kalau kita ingin mengubah keadaan serba ’terkontrol dan terlindungi’ ini. Kita bisa jadi ’melempem’ kalau terlalu banyak menerima perlindungan dan kasih sayang yang berlebihan. Kuncinya ada pada diri kita. Kalau kita mau melakukan hal-hal ini,kemungkinan besar ortu akan mengubah pendapat maupun sikapnya sama kita.
1. Bersikap Mandiri
Ortu yang over protective pada kita mungkin melihat tingkah laku kita yang masih ’kekanak-kanakan’ dan dianggap belum mampu menghadapi ’kejamnya’ dunia. So, mulai sekarang bersikaplah mandiri dalam segala hal. Dimulai dari mengerjakan kebutuhan pribadi sendiri.
2. Nggak Manja
Salah satu ciri sifat manja biasanya kelihatan dari omongan kita. Misalnya dengan bergaya bicara baby talk atau kebiasaan mengeluh yang nggak kunjung berakhir. Mulai dari keluhan soal buku yang robek,pulang harus naik angkot, sepatu basah,baju yang nggak enak dipakai and so on.
3. Transparan alias mau menjelaskan
Setiap kali harus pergi sendirian tanpa ortu,coba deh berikan data yang cukup lengkap seperti: siapa saja yang ikut bareng kita,kemana tujuannya dan apa alasannya. Kalau data sudah lengkap dan meyakinkan, nggak ada alasan buat ortu untuk panik berlebihan. Kalau ditolak, jangan marah ya..Sampaikan saja kalau kita kecewa dengan keputusan tersebut.
4. Siap Menerima Kenyataan
Coba ingat-ingat sekali lagi, ada nggak sih yang menjanjikan bahwa dunia ini akan selalu ramah dan bersikap adil sama kita? Nggak ada,kan? Jadi,kalau niat kita adalah lepas dari ’sangkar emas’ ortu,kita juga harus siap dengan apa yang terjadi di luar sana. Jangan sedikit-sedikit bilang,”It’s not fair!” atau ”Aku nggak suka,soalnya dia jahat!” dan lain-lain.
5. Sabar dan Konsisiten
Kunci terakhir pastinya sabar menunggu perubahan yang kita inginkan. Perubahan seperti ini memang nggak bisa terjadi secara instan. Apalagi kalau ortu kita sudahb terbiasa bertindak seperti ini dalam waktu yang cukup lama. Coba lagi dan lagi, jangan sampai kita menyerah begitu saja.

Pada akhirnya, kita harus ingat bahwa ortu melakukan ini karena sayang sama kita. Jadi kalau kita ingin ortu menerima konsep ’mandiri’ yang kita sodorkan,kita juga harus melakukannya dengan penuh kasih sayang. Oke?

Iklan

3 thoughts on “GaRa-gAra TerLaLu CINta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s